PENDAHULUAN
Latar Belakang
Salah satu penanggulangan protein adalah dengan peningkatan bahan makanan hewani. Daging ayam dan itik memberi sumbangsi yang sangat berarti dalam memenuhi kebutuhan protein hewani, disebabkan karena lebih baik dari segi kesehatan karena mengandung sedikit lemak dan kaya protein.
Daging merupakan semua jaringan hewan dan semua produk hasil pengolahannya yang sesuai untuk di makan dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan bagi yang memakannya. Karkas adalah berat tubuh dari ternak potong setelah pemotongan dikurangi kepala, darah serta organ internal lainnya. Karkas mempunyai nilai kualitas yang dihasilkan oleh ternak terhadap suatu kondisi pemasaran.
Faktor sebelum pemotongan yang dapat mempengaruhi kualitas daging antara lain adalah genetik, spesies, bangsa, tipe ternak, jenis kelamin, umur, pakan termasuk bahan ajektif dan stress. Faktor setelah pemotongan yang mempengaruhi kualitas daging antara lain meliputi metode pelayuan, stimulasi listrik, metode pemasakan, pH karkas dan daging, bahan tambahan termasuk enzim pengempuk daging, hormon dan antibiotik.
Proses pemotongan ternak besar maupun ternak kecil dimana tahapan pengerjaannya dilakukan secara terpisah seperti pemotongan bagian untuk membersihkan isi dalam perut dan sebagainya demi kesehatan dan kebersihan daging dalam rangka menjaga kualitas daging. Berdasarkan penjelasan di atas maka dilakukanlah proses pengkarkasan ayam, itik dan kelinci guna untuk mengetahui cara-cara/teknik pemotongan ternak.
Tujuan dan Kegunaan
Tujuan diadakannya praktikum Abatoir dan teknik pemotongan ternak mengenai pengkarkasan ayam, itik dan kelinci adalah melakukan proses pemotongan dan pengkarkasan ayam, itik dan kelinci dengan benar, menghitung persentase bagian karkas dan non karkas ayam, itik dan kelinci, mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi persentase karkas, dan membandingkan kualitas karkas ayam, itik dan kelinci berdasarkan persentase karkasnya.
Kegunaan diadakannya praktikum ini adalah agar praktikan dapat mengetahui proses pemotongan ternak secara benar, menghitung persentase bagian karkas dan non karkas ayam, itik dan kelinci, mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi persentase karkas dan membandingkan kualitas karkas ayam dan itik berdasarkan persentase karkasnya, serta menginterpertasikan data yang diperoleh.
Metode Praktikum
Pertama-tama menimbang ayam, itik dan kelinci sebelum dipotong, lalu leher ayam, itik dan kelinci dipotong dengan memutuskan bagian arteri karotis, vena jungularis dan esophagus setelah benar-benar mati maka melakukan kembali penimbangan untuk mengetahui berat mati serta dapat menjadi pedoman penentuan berat darahnya darah, karena alat stimulasi listriknya dalam keadaan rusak maka tidak dilakukan pemberian stimulasi listrik, melainkan dilanjutkan dengan pencabutan bulu dengan terlebih dahulu ayam/itik dicelupkan kedalam air dengan suhu 50-540C selama 30-45 menit untuk ayam dan 65-800C selama 5-30 detik untuk itik (scalding) kemudian menimbang untuk memperoleh berat bulu sedangkan kelinci tidak di kuliti dan langsung dikeluarkan isi dalamnya. Kemudian mengeluarkan isi dalam (evisceration, lalu ditimbang dan dilakukan pengkarkasan dengan memotong kepala, kaki dan leher). Menimbang kepala, kaki, leher, dan karkas. Selanjutnya memotong-motong karkas menjadi 8-10 bagian : 2 sayap (wings), 2 paha atas (thight), 2 paha bawah (drum stick), dada (chicken breat) dan 1 punggung. Kemidian melakukan Boneless (pelepasan daging dari tulang), memisahkan daging, tulang dan lemak, kemudian menimbang masing-masing bagian tersebut.
Analisa Data
Persentase Non Karkas = Berat bagian non karkas x 100%
Berat Hidup
Persentase Bagian Karkas = Berat bagian karkas x100%
Berat Karkas
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Persentase Karkas dan Non Karkas Itik
Berdasarkan praktikum Abatoir dan Teknik Pemotongan Ternak mengenai Pengkarkasan Ayam, Itik dan Kelinci yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 1. Persentase Bagian Karkas Itik
Parameter yang diukur Itik
Kg %
Berat Hidup 1,297 -
Berat Mati 1,244 -
Berat Karkas 0,884 -
Berat Darah 0,053 4,09
Berat Bulu 0,092 7,10
Berat Kaki 0,03 2,30
Berat Kepala 0,068 5,24
Berat Leher 0,115 8,87
Berat Punggung 0,165 18,67
Berat Isi Dalam :
a. Jantung 0,013 1,002
b. Gizzard 0,048 3,70
c. Hati 0,024 1,85
d. Usus 0,057 4,39
Berat Lemak 0,057 4,39
Berat Bagian Karkas :
a. Paha Atas Kiri 0,036 4,07
b. Paha Atas Kanan 0,038 4,29
c. Paha Bawah Kiri 0,042 4,75
d. Paha Bawah Kanan 0,047 5,30
e. Sayap Kiri 0,081 9,20
f. Sayap Kanan 0,102 11,54
g. Dada Kiri 0,091 10,30
h. Dada Kanan 0,097 10,97
Berat Daging 0,306 34,60
Berat Tulang 0,22 24,89
Berat Kulit 0,154 17,42
Sumber : Data Hasil Praktikum Abatoir dan Teknik Pemotongan Ternak, 2010.
Dari praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa berat hidup itik adalah 1,397 kg, berat karkas 0,884 kg (68,15%). Berat hidup Itik memang tinggi dibanding dengan berat hidup ayam kampung namun lebih rendah dari ayam broiler. Hal ini sangat jauh dari yang seharusnya yaitu 3 kg. Hal ini sesuai dengan pendapat Buckle (1987) yang menyatakan bahwa daging itik merupakan salah satu jenis daging yang disukai oleh konsumen dibanyak negara didunia. Itik merupakan penghasil daging dan telur cukup baik dan jauh lebih tahan terhadap berbagai penyakit dibandingkan ayam. Beberapa bangsa itik dapat mencapai bobot untuk dipasarkan yaitu 3 kg pada umur 3 minggu.
Bagian offal itik dari tabel di atas yaitu kepala dan leher yaitu 0,068 kg (5,24%) dan 0,115 kg (8,87%) atau berkisar 183 gram atau 14,11%, hal ini sesuai
dengan pendapat Sudaryati (2010) bahwa bagian offal itik seperti kepala dan leher berkisar 133,68-175,01 gram menyumbang sekitar 12,33-14,92% dari berat hidup.
Perbedaan nilai-nilai persentase karkas tersebut bervariasi, karena dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor genetik meliputi bangsa ternak, faktor komposisi tubuh, berupa umur, berat hidup, kadar laju pertumbuhan serta dipengaruhi oleh faktor kompisisi kimia karkas. Hal ini sesuai dengan pendapat Soeparno (2005) yang menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi Nilai dan Kualitas Karkas yaitu : 1) Faktor Genetik, dalam bangsa ternak yang sama, komposisi karkas dapat berbeda. Bangsa ternak dapat menghasilkan karkas dengan karakteristiknya sendiri. Perbedaan komposisi tubuh dan karkas diantaranya bangsa ternak, terutama disebabkan perbedaan ukuran tubuh dewasa atau perbedaan berat pada saat dewasa. 2) Komposisi Tubuh, berupa Umur, berat hidup dan kadar laju perubahan juga mempengaruhi komposisi karkas. Proporsi tulang, otot, dan lemak sebagai komponen utama karkas dipengaruhi oleh factor-faktor tersebut di atas. Bila proporsi suatu variabel tinggi, maka proporsi salah satu variable kedua/lainnya lebih rendah. Serta 3) Komposisi kimia karkas serta flavor, pada Komposisi kimia karkas yang terutama terdiri dari air, protein, lemak dan abu secara proporsional dapat juga berubah, jika proporsi salah satu variable mengalami perubahan.
B. Persentase Karkas dan Non Karkas Kelinci
Berdasarkan praktikum Abatoir dan Teknik Pemotongan Ternak mengenai Pengkarkasan Ayam, Itik dan Kelinci yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 2. Persentase Bagian Karkas Kelinci
Parameter yang diukur Kelinci
Kg %
Berat Hidup 0,971 -
Berat Mati 0,946 -
Berat Karkas 0,371 -
Berat Darah 0,025 2,57
Berat kulit dan Bulu 0,065 6,6
Berat Kaki 0,027 2,78
Berat Kepala 0,101 10,4
Berat Punggung 0,196 52,83
Berat Isi Dalam :
a. Jantung 0,003 0,31
b. Lambung 0,001 0,10
c. Hati 0,025 2,57
d. Paru-paru 0,005 0,50
e. Usus 0,175 16,9
f. Ginjal 0,008 0,82
Berat Bagian Karkas :
a. Paha Atas Kiri 0,074 19,9
b. Paha Atas Kanan 0,074 19,9
c. Paha Bawah Kiri 0,034 9,1
d. Paha Bawah Kanan 0,035 9,43
Berat Daging 0,28 75,47
Berat Tulang 0,09 24,5
Sumber : Data Hasil Praktikum Abatoir dan Teknik Pemotongan Ternak, 2010.
Dari praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa berat karkas kelinci setelah dipotong yaitu 0,371 kg (38,2%). Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Sinaga (2010) bahwa bila daging yang dihasilkan berasal dari kelinci yang dipotong umur 8-10 bulan dengan berat badan 2 kg, maka daging yang dihasilkan disebut fryer, pada umur potong tersebut dicapai berat karkas 50-54% sedangkan bila daging yang dihasilkan berasal dari kelinci yang dipotong umur lebih dari 10 bulan disebut roaster berat badan lebih dari 2 kg, persentase karkas 55-65%.
Karkas kelinci selama praktikum di potong menjadi beberapa bagian antara lain yaitu bagian punggung, paha atas kiri, paha atas kanan, paha bawah kiri, paha bawah kanan. Sedangkan hal ini tidak sesuai dengan pendapat Suradi (2003) bahwa umumnya karkas kelinci direcah menjadi 7 potong, yaitu 2 potong bagian paha belakang, 1 potong bagian punggung dan pinggang, 2 potong bagian bahu, 2 potong bagian kaki depan. Untuk karkas yang besar dibagi menjadi 12 bagian, yaitu 4 potongan bagian kaki belakang, 5 potongan bagian pinggang dan punggung, 1 potongan bagian rusuk depan dan 2 potongan bagian kaki depan.
C. Persentase Karkas dan Non Karkas Ayam Broiler
Berdasarkan praktikum Abatoir dan Teknik Pemotongan Ternak mengenai Pengkarkasan Ayam, Itik dan Kelinci yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 3. Persentase Bagian Karkas Ayam Broiler
Parameter yang diukur Ayam Broiler
Kg %
Berat Hidup 1,46 -
Berat Mati 1,414 -
Berat Karkas 1,064 -
Berat Darah 0,046 3,15
Berat Bulu 0,051 1,02
Berat Kaki 0,06797 4,65
Berat Kepala 0,0493 3,37
Berat Leher 0,04098 2,80
Berat Punggung 3,181 2,966
Berat Isi Dalam :
a. Jantung 0,00595 0,40
b. Gizzard 0,01571 1,075
c. Hati 0,02746 1,876
d. Usus 0,0519 3,554
Berat Lemak 0,05548 3,79
Berat Bagian Karkas :
a. Paha Atas Kiri 0,0578 5,43
b. Paha Atas Kanan 0,07897 7,42
c. Paha Bawah Kiri 0,00291 7,79
d. Paha Bawah Kanan 0,0623 6,48
e. Sayap Kiri 0,05727 5,38
f. Sayap Kanan 0,05373 5,04
g. Dada Kiri 0,17584 16,5
h. Dada Kanan 0,19148 17,99
Berat Daging 0,585367 55,00
Berat Tulang 0,27335 25,69
Berat Kulit 0,10478 9,85
Sumber : Data Hasil Praktikum Abatoir dan Teknik Pemotongan Ternak, 2010.
Dari praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa berat hidup ayam broiler yaitu 1,46 kg, berat mati yaitu 1,414 kg dan berat karkas 1,064 kg. Berat hidup ayam broiler sangat tinggi dibanding dengan unggas lainnya, karena kemampuan genetik dari ayam broiler untuk mengefisienkan pakan yang dimakan untuk menjadi otot sehingga meskipun dipanen kurang lebih 50 hari maka persentase beratnya lebih besar dati unggas yang lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Buckle (1987). Umumnya ayam broiler dipelihara selama kurang lebih 2 bulan atau antara 8 sampai 9 minggu. Berat badan pada umur ini sudah hampir sama dengan berat badan kebanyakan ayam petelur dewasa.
Bagian non karkas pada ayam broiler yaitu kaki 4,65%, kepala 3,37%, leher 2,80%, darah 3,15%, bulu 1,02%, jantung 0,40%, gizzard 1,075%, hati 1,876%, dan usus 3,554%. Hasil pengukuran yang dilakukan sepertinya kurang tepat karena hasilnya sangat berbeda dengan yang semestinya, sebagaimana pendapat Iskandar (2007) yang menyatakan bahwa persentase bagian non karkas pada ayam broiler untuk setiap umur berbeda-beda yaitu pemotongan 8 minggu persentase karkasnya untuk jantan 64,4%, kepala dan leher 6,5%, kaki 3,3%, hati 2,6%, ampela 4,4%, jantung 0,6%, usus 6,6%, darah 5,4%, dan bulu 6,0%. Untuk betina karkas 71%, kepala dan leher 4,8%, kaki 4,5%, hati 3,1%, ampela 5,6%, jantung 0,6%, usus 0,5%, darah 4,2%, dan bulu 9,6%.
Karkas ayam broiler dibagi menjadi bagian paha, dada, dan punggung. masing masing bagian tersebut kemudian dibagi 2 dan menghasilkan persentase yaitu paha atas kiri 5,43%, paha atas kanan 7,42%, paha bawah kiri 7,79%, paha bawah kanan 6,48%, sayap kiri 5,38%, sayap kanan 5,04%, dada kiri 16,5%, dada kanan 17,99%, dan punggung 2,966%. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Rasyaf (2003) yang menyatakan bahwa bagian-bagian karkas untuk ayam broiler terdiri atas sayap dada, paha, dada bertulang, dada tanpa bertulang dan lemak abdominal. Bobot karkas dan persentase setiap bagian pada karkas berbeda-beda. Proporsi dari bagian karkasnya seperti paha, sayap, kaki, dada dan punggung berturut-turut adalah 10%, 15% 17%, 9%, dan 30% dari bobot karkas. Bagian dada dan punggunnya dapat dibelah dua sehingga potongan karkas komersialnya berjumlah 10 buah.
D. Persentase Karkas dan Non Karkas Ayam Kampung
Berdasarkan praktikum Abatoir dan Teknik Pemotongan Ternak mengenai Pengkarkasan Ayam, Itik dan Kelinci yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 4. Persentase Bagian Karkas Ayam Kampung
Parameter yang diukur Ayam Kampung
Kg %
Berat Hidup 0,613 -
Berat Mati 0,589 -
Berat Karkas 0,378 -
Berat Darah 0,024 3,92
Berat Bulu 0,040 6,52
Berat Kaki 0,0241 3,93
Berat Kepala 0,0293 4,78
Berat Leher 0,1181 12,16
Berat Punggung 0,0553 14,63
Berat Isi Dalam :
a. Jantung 0,0032 0,52
b. Gizzard 0,0855 13,95
c. Hati 0,0163 2,66
d. Usus 0,0432 7,05
Berat Lemak 0,00378 0,62
Berat Bagian Karkas :
a. Paha Atas Kiri 0,04461 11,80
b. Paha Atas Kanan 0,051 13,49
c. Paha Bawah Kiri 0,02934 7,76
d. Paha Bawah Kanan 0,02964 7,84
e. Sayap Kiri 0,022 5,80
f. Sayap Kanan 0,0239 6,32
g. Dada Kiri 0,0466 12,32
h. Dada Kanan 0,0315 8,33
Berat Daging 0,2173 57,48
Berat Tulang 0,0969 25,63
Berat Kulit 0,03 7,94
Sumber : Data Hasil Praktikum Abatoir dan Teknik Pemotongan Ternak, 2010.
Dari praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil yaitu berat hidup ayam kampung yaitu 0,613 kg, berat mati 0,589 kg, dan berat karkas 0,387 kg. Nilai atau persentase karkas pada ayam kampung bervariasi tergantung pada umur dan jenis kelamin. Hal ini sesuai dengan pendapat Resnawati (2005) yang menyatakan bahwa persentase bobot karkas ayam bervariasi menurut umur dan sex. Ayam umur muda memiliki persentase karkas lebih tinggi dibandingkan dengan umur dewasa atau tua.
Persentase bagian karkas ayam kampung yaitu paha atas kiri 11,80%, paha atas kanan 13,49%, paha bawah kiri 7,76%, paha bawah kanan 7,84%, sayap kiri 5,80%, sayap kanan 6,32%, dada kiri 13,32%, dada kanan 8,33%, dan punggung 14,63%. Sehingga total persentase bagian-bagian karkas ayam kampung 91.846%. Hal ini sesuai dengan pendapat Resnawati (2005) yang menyatakan bahwa Ayam kampung umur 20 minggu mempunyai persentase karkas 60,68% sedangkan bobot ayam kampung umur 10 minggu 552,34 gram dan umur 20 minggu 1441 gram dengan rata-rata persentase bobot karkas dari 3-6 bulan mencapai 75,82%.
Persentase non karkas pada ayam kampung yaitu kepala 4,78%, kaki 3,93%, leher 12,16%, jantung 0,52%, gizzard 13,95%, hati 2,66%, usus 7,05%. Hal ini sesuai dengan pendapat Murtidjo (1987) yang menyatakan bahwa, persentase karkas bagian tubuh ayam kampung untuk setiap umur berbeda-beda untuk pemotongan usia 8 minggu persentase karkasnya yaitu 64,4%, sedangkan pada bagian non karkas bagian kepala dan leher 5,9%, kaki 3,2%, hati 28%, ampela 4,4%, jantung 0,8%, usus 3,1%, darah 5,2%, dan bulu 6,0%.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan mengenai Pengkarkasan Ayam, Itik dan Kelinci maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
Persentase karkas dan non karkas serta berat mati di pengaruhi oleh perlakuan pada saat setelah pemotongan pada ternak ayam, itik dan kelinci seperti evisceration dan defeathering.
Daging itik merupakan salah satu jenis daging yang disukai oleh konsumen dibanyak negara didunia. Itik merupakan penghasil daging dan telur cukup baik dan jauh lebih tahan terhadap berbagai penyakit dibandingkan ayam. Beberapa bangsa itik dapat mencapai bobot untuk dipasarkan yaitu 3 kg pada umur 3 minggu.
Daging yang dihasilkan berasal dari kelinci yang dipotong umur 8-10 bulan dengan berat badan 2 kg, maka daging yang dihasilkan disebut fryer, pada umur potong tersebut dicapai berat karkas 50-54% sedangkan bila daging yang dihasilkan berasal dari kelinci yang dipotong umur lebih dari 10 bulan disebut berat badan lebih dari 2 kg, persentase karkas 55-65%.
Berat hidup ayam broiler sangat tinggi dibanding dengan unggas lainnya, karena kemampuan genetik dari ayam broiler untuk mengefisienkan pakan yang dimakan untuk menjadi otot sehingga meskipun dipanen kurang lebih 50 hari maka persentase beratnya lebih besar dati unggas yang lain.
Nilai atau persentase karkas pada ayam kampung bervariasi tergantung pada umur dan jenis kelamin.
Saran
Untuk laboratorium, sebaiknya alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum disediakan sebelumnya sehingga nantinya tidak menghambat jalannya kegiatan praktikum serta tidak dibebankan pada praktikan.
Untuk asisten sebaiknya para asisten senantiasa mendampingi praktikan dalam pengambilan data serta perhitungannya sehingga mempermudah dalam pengolahan data.
DAFTAR PUSTAKA
Buckle, 1987. Ilmu Pangan. Universitas indonesia press, Jakarta
Iskandar, S. 2007. Keanekaragaman Sumber Daya Hayati Ayam Lokal Indonesia : Manfaat dan Potensi. Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Bogor.
Murtidjo. B. A, 1987. Beternak Ayam Broiler. Kanisius, Yogyakarta.
Rasyaf, M,. 2003. Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya, Jakarta.
Resnawati, H. dkk. 2005. Produktivitas Ayam Lokal Yang Dipelihara Secara Intensif. Balai Penelitian Ternak. Bogor.
Sinaga, S. 2010. http://www.sauland.sinaga.blogspot.com/npad.ac.id/Manajemen Produksi dan Tujuan Pemeliharaan Kelinci/ Tanggal Akses 14 Maret 2010/ 9:35 PM/
Soeparno. 2005. Ilmu Dan Teknologi Daging. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Sudaryati, S. 2010. http://www.i-lib.ugm.ac.id/. Pengaruh Umur, Jenis Kelamin Dan Berat Badan Terhadap Offal Itik Jantan Dan Betina Lokal/ Tanggal akses 16 Maret 2010/ 01.13 AM/
Suradi, K. 2003. Pengolahan Daging dan Kulit Sebagai Salah Satu Alternatif Dalam Penanganan Pemasaran Ternak Kelinci. Fakultas Peternakan. Universitas Padjajaran. Bandung.
Suryana. 2008. Peluang dan Kendala Pengembangan Itik Serati Sebagai Penghasil Daging. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Kalimantan Selatan.
Jumat, 07 Mei 2010
Abatoir dan Teknik Pemotongan Ternak
PENDAHULUAN
Daging adalah salah satu pangan asal hewan yang mengandung zat gizi yang sangat baik untuk kesehatan dan pertumbuhan manusia, serta sangat baik sebagai media pertumbuhan mikroorganisme. Salah satu tahap yang sangat menentukan kualitas dan keamanan daging dalam mata rantai penyediaan daging adalah tahap di rumah pemotongan hewan (RPH). Oleh sebab itu, penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan pangan di RPH sangatlah penting, atau dapat dikatakan pula sebagai penerapan sistem product safety pada RPH. Aspek yang perlu diperhatikan dalam sistem tersebut adalah higiene, sanitasi, kehalalan, dan kesejahteraan hewan dalam rangka penyediaan daging yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH).
Akan tetapi karena kurangnya kesadaran dari beberapa pihak pengelola rumah pemotongan hewan sehingga sebagian besar rumah potong hewan yang terdapat diberbagai daerah tidak memenuhi stndar dan tidak layak digunakan sebagai rumah potong hewan. Sebagai contohnya yaitu rumah potong hewan yang terdapat di Makassar yakni Tamarunang (Gowa) dan Tamangapa (Antang). Keduanya tidak memenuhi persyaratan sehingga produk yang dihasilkan patut diragukan kualitasnya. Oleh karena itu perlu diketahui hubungan antara tidak terpenuhinya standar yang ada terhadap produk yang dihasilkan.
A. Persyaratan lokasi
Lokasi RPH perlu dipertimbangkan dengan seksama agar proses pemotongan ternak dalam RPH tersebut tidak mencemari likungan. Adapun persyaratan lokasi RPH adalah sebagai berikut :
• Bangunan harus terletak di lokasi yang jauh dari peternakan babi atau hewan yang tidak halal yang dapat mengkontaminasi proses produksi halal.
• Lokasi RPH tidak boleh bertentangan dengan Rencana umum tata ruang (RUTR)
• Tidak dekat dengan pemukiman penduduk, letak lebih rendah dari pada pemukiman penduduk. dan tidak menimbulkan pencemaran air.
• Lokasi RPH harus dekat dengan jalan raya guna memperlancar pendistribusiannya
Rumah Potong Hewan (RPH) Tamangapa di Kawasan Antang Makassar dan Tamarunang di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan secara umum dapat dikatan sudah memenuhi standar yang telah ditetapkan untuk persyaratan lokasi. Karena kedua RPH tersebut letaknya tidak berada dibagian kota yang padat penduduk.
B. Persyaratan bangunan dan tata letak
Pada RPH Tamangapa di Antang belum memenuhi persyaratan bangunan dan tata letak, ini dapat dilihat dari tidak tersedianya kandang isolasi dimana ternak diperiksa kesehatannya sebelum dilakukan penyembelihan. RPH ini hanya dilengkapi dengan kantor administrasi, kantin dan mushalla serta kamar mandi, akan tetapi hampir seluruh bangunan telah mengalami disfungsi.
Sedangkan pada RPH Tamarunang di Gowa, memiliki bangunan dan tata letak yang jauh lebih baik daripada RPH Tamangapa di Antang. Hal ini dapat ditinjau dari tersediannya kandang isolasi dimana ternak dilakukan pemeriksaan antemortem oleh dokter hewan atau petugas yang berwenang.
Konstruksi bangunan di ruang produksi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Lantai harus rata, datar, mudah dibersihkan, dan memiliki saluran pembuangan yang lancar.
b. Saluran pembuangan tertutup dan memiliki kemiringan landai menuju pembungan.
c. Dinding dalam ruang pemotongan harus licin, keras, tahan lama, tidak tembus air dan berwarna terang, tinggi permukaan dinding yang dilapisi keramik tidak kurang dari tiga meter. Khusus ruang pendinginan dan penyimpanan, dinding harus dilapisi sampai ketinggian ruang penyimpanan.
C. Persyaratan Sarana dan Prasarana
RPH Tamangapa dan RPH Tamarunang tidak telihat perbedaan yang mencolok. Kedua RPH ini dilengkapi dengan sarana jalan yang baik, ketersediaan air bersih, sumber listrik yang memadai, serta peralatan yang terbuat dari bahan yang tidak mudah korosif, mudah dibersihkan dan desinfeksi serta mudah dalam perawatannya. Akan tetapi kedua RPH ini tidak memenuhi persyaratan seperti Sumber air bersih yang cukup untuk memenuhi kebutuhan minimum seekor ternak, serta instalasi air yang bertekanan atau air yang panas (suhu 80oC) yang memudahkan dalam proses pengkarkasan.
D. Persyaratan Peralatan
Pada RPH Tamangapa dan RPH Tamarunang peralatan yang digunakan masih sederhana bahkan masih tradisional tetapi telah memenuhi persyaratan bahwa perlekapang pendukung harus terbuat dari bahan yang tidak mudah korosif, mudah dibersihkan, didesinfeksi serta mudah dirawat. Hal tersebut sangat menjamin terhadap kebersihan produk yang dihasilkan. Hal ini sesuai dengan drh. Yudi (2009) bahwa seluruh peralatan yang digunakan untuk daging harus kuat, tidak mudah berkarat, tidak bereaksi dengan zat-zat yang terkandung dalam daging, mudah dirawat, serta mudah dibersihkan dan didisinfeksi. Peralatan yang memiliki sudut dan atau terbuat dari kayu tidak dapat digunakan untuk daging.
E. Persyaratan Higiene Karyawan dan perusahaan
Untuk pencegahan kontaminasi lingkungan diluar RPH yang terbawa oleh para pekerja terhadap mutu dari karkas yang dihasilkan maka sebuah RPH harus memiliki fasilitas seperti, berupa tempat istirahat, kantin, serta tempat penyimpanan barang pribadi (locker) ataupun ruang ganti pakaian, serta dilakukan pemeriksaan kesehatan bagi setiap pekerja termasuk juga kepada para pengunjung. Akan tetapi kedua RPH ini (RPH Tamangapa dan RPH Tamarunang) kurang memperhatikan hal tersebut. Ini dapat terlihat dari leluasanya pengujung keluar masuk dalam RPH. Lebih lanjut drh.Yudi (2009) menegaskan bahwa penerapan higiene untuk personal di RPH mencakup kesehatan dan kebersihan diri, perilaku/kebiasaan bersih, serta peningkatan pengetahuan/ pemahaman dan kepedulian melalui program pendidikan dan pelatihan yang terprogram dan berkesinambungan. Setiap pegawai yang menangani langsung daging harus sehat dan bersih. Higiene personal yang buruk merupakan salah satu sumber pencemaran terhadap daging.
F. Persyaratan Kesehatan Masyarakat Veteriner
Pengawasan kesehatan masyrakat veteriner dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan antemortem dan postmortem untuk menghasilkan produk yang ASUH (aman, sehat, utuh dan halal). Tetapi pada kenyataannya, RPH Tamangapa kurang memperhatikan hal ini sehingga untuk menghasilkan produk yang ASUH tidak tercapai. Ini dikarenakan tidak adanya dokter-dokter hewan yang memeriksa kesehatan dari ternak sebelum disembelih dan pemeriksaan setelah pemotongan.
G. Kendaraan Pengangkut Daging
Salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh oleh sebuah RPH adalah adanya kendaraan pengangkut daging. Kendaraan tersebut harus memiliki boks yang tertutup, yang dilengkapi dengan alat pendingin yang dapat mempertahankan suhu bagian dalam daging segar +7oC dan bagian dalam jeroan +3oC, serta suhu ruangan boks pengangkut beku maksimum -18oC. Sedaiknya di dalam boks dilengkapi alat penggantung untuk menghindari daging yang menyentuh lantai atau dinding bos pengangkut. Bagian dalam boks harus dilapisi dengan bahan yang tidak toksik serta tidak mudah korosid, mudah dibersihkan (desinfeksi) serta mudah dibersihkan.
Tetapi pada kenyataannya RPH Tamangapa tidak memiliki kendaraan pengangkut daging. Sehingga dalam proses pengangkutnya dilakukan secarea manual sehingga mutu dari daging yang dihasilkan kurang terjamin karena terkontaminasi dengan lingkuang luar. Sedangkan pada RPH Tamarunang telah memiliki kendaraan pengangkut daging tetapi tidak memenuhi persyaratan sehingga daging yang dihasilkan masih dapat terkontaminasi oleh lingkungan luar.
Setiap pengangkutan daging hewan potong dan daging unggas harus menggunakan kendaraan angkutan khusus yang mendapat ijin dari instansi pemberi izin. Fasilitas dan peralatan yang digunakan untuk transpor daging segar harus bersih dan sehat. Fasilitas truk pengangkut daging dan truk pengangkut hewan hidup ditempatkan di dalam atau di luar bangunan yang disediakan Rumah Pemotongan Hewan. Ruang daging dari kendaraan pengangkut daging tidak boleh digunakan untuk tujuan lain dari pada pengangkutan daging (BBPKH, 2008).
DAFTAR PUSTAKA
Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan Badan Pengembangan SDM Pertanian
Jl. Snakma Cisalopa, Kec. Caringin, Kab. Bogor.
dr. Ngurah Diatmika. 2009. Syarat Pendirian RPH. http:// www.bisnisbali.com.
drh. Yudi. 2009. Product Safety Pada Rumah Potong Hewan. http://drhyudi.blogspot. com/2009/07.product-safety.html.
Drs. Mukhlis.r, mm. 2007. Peraturan Daerah Kota Pariaman Tentang Retribusi Rumah Potong Hewan Dan Pemeriksaan Daging. http://www.google.com/ search/perda_rph.pdf.
Eko Priliawito. 2009. Rumah Potong Hewan Harus Kelola Limbah Saluran air. http://metro.vivanews.com/53215/Rumah_potong_hewan.html.
Elok Budi Retnani, dkk. 2004. Jaminan Keamanan Daging Sapi Di Indonesia Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor
Suryo Prabowo, SPt. 2008. Pemantauan Peredaran Daging Menjelang Bulan Ramadhan Tahun 2008 oleh UPTD Rumah Potong Hewan (RPH). Staf UPTD Rumah Potong Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Sragen.
Utoyo. 2008. Peraturan Daerah Kabupaten Magelang Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Pemeriksaan Kesehatan Hewan, Pemotongan Hewan Potong Dan Penanganan Daging. http://google.com/search/perda_rph.pdf.
Daging adalah salah satu pangan asal hewan yang mengandung zat gizi yang sangat baik untuk kesehatan dan pertumbuhan manusia, serta sangat baik sebagai media pertumbuhan mikroorganisme. Salah satu tahap yang sangat menentukan kualitas dan keamanan daging dalam mata rantai penyediaan daging adalah tahap di rumah pemotongan hewan (RPH). Oleh sebab itu, penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan pangan di RPH sangatlah penting, atau dapat dikatakan pula sebagai penerapan sistem product safety pada RPH. Aspek yang perlu diperhatikan dalam sistem tersebut adalah higiene, sanitasi, kehalalan, dan kesejahteraan hewan dalam rangka penyediaan daging yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH).
Akan tetapi karena kurangnya kesadaran dari beberapa pihak pengelola rumah pemotongan hewan sehingga sebagian besar rumah potong hewan yang terdapat diberbagai daerah tidak memenuhi stndar dan tidak layak digunakan sebagai rumah potong hewan. Sebagai contohnya yaitu rumah potong hewan yang terdapat di Makassar yakni Tamarunang (Gowa) dan Tamangapa (Antang). Keduanya tidak memenuhi persyaratan sehingga produk yang dihasilkan patut diragukan kualitasnya. Oleh karena itu perlu diketahui hubungan antara tidak terpenuhinya standar yang ada terhadap produk yang dihasilkan.
A. Persyaratan lokasi
Lokasi RPH perlu dipertimbangkan dengan seksama agar proses pemotongan ternak dalam RPH tersebut tidak mencemari likungan. Adapun persyaratan lokasi RPH adalah sebagai berikut :
• Bangunan harus terletak di lokasi yang jauh dari peternakan babi atau hewan yang tidak halal yang dapat mengkontaminasi proses produksi halal.
• Lokasi RPH tidak boleh bertentangan dengan Rencana umum tata ruang (RUTR)
• Tidak dekat dengan pemukiman penduduk, letak lebih rendah dari pada pemukiman penduduk. dan tidak menimbulkan pencemaran air.
• Lokasi RPH harus dekat dengan jalan raya guna memperlancar pendistribusiannya
Rumah Potong Hewan (RPH) Tamangapa di Kawasan Antang Makassar dan Tamarunang di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan secara umum dapat dikatan sudah memenuhi standar yang telah ditetapkan untuk persyaratan lokasi. Karena kedua RPH tersebut letaknya tidak berada dibagian kota yang padat penduduk.
B. Persyaratan bangunan dan tata letak
Pada RPH Tamangapa di Antang belum memenuhi persyaratan bangunan dan tata letak, ini dapat dilihat dari tidak tersedianya kandang isolasi dimana ternak diperiksa kesehatannya sebelum dilakukan penyembelihan. RPH ini hanya dilengkapi dengan kantor administrasi, kantin dan mushalla serta kamar mandi, akan tetapi hampir seluruh bangunan telah mengalami disfungsi.
Sedangkan pada RPH Tamarunang di Gowa, memiliki bangunan dan tata letak yang jauh lebih baik daripada RPH Tamangapa di Antang. Hal ini dapat ditinjau dari tersediannya kandang isolasi dimana ternak dilakukan pemeriksaan antemortem oleh dokter hewan atau petugas yang berwenang.
Konstruksi bangunan di ruang produksi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Lantai harus rata, datar, mudah dibersihkan, dan memiliki saluran pembuangan yang lancar.
b. Saluran pembuangan tertutup dan memiliki kemiringan landai menuju pembungan.
c. Dinding dalam ruang pemotongan harus licin, keras, tahan lama, tidak tembus air dan berwarna terang, tinggi permukaan dinding yang dilapisi keramik tidak kurang dari tiga meter. Khusus ruang pendinginan dan penyimpanan, dinding harus dilapisi sampai ketinggian ruang penyimpanan.
C. Persyaratan Sarana dan Prasarana
RPH Tamangapa dan RPH Tamarunang tidak telihat perbedaan yang mencolok. Kedua RPH ini dilengkapi dengan sarana jalan yang baik, ketersediaan air bersih, sumber listrik yang memadai, serta peralatan yang terbuat dari bahan yang tidak mudah korosif, mudah dibersihkan dan desinfeksi serta mudah dalam perawatannya. Akan tetapi kedua RPH ini tidak memenuhi persyaratan seperti Sumber air bersih yang cukup untuk memenuhi kebutuhan minimum seekor ternak, serta instalasi air yang bertekanan atau air yang panas (suhu 80oC) yang memudahkan dalam proses pengkarkasan.
D. Persyaratan Peralatan
Pada RPH Tamangapa dan RPH Tamarunang peralatan yang digunakan masih sederhana bahkan masih tradisional tetapi telah memenuhi persyaratan bahwa perlekapang pendukung harus terbuat dari bahan yang tidak mudah korosif, mudah dibersihkan, didesinfeksi serta mudah dirawat. Hal tersebut sangat menjamin terhadap kebersihan produk yang dihasilkan. Hal ini sesuai dengan drh. Yudi (2009) bahwa seluruh peralatan yang digunakan untuk daging harus kuat, tidak mudah berkarat, tidak bereaksi dengan zat-zat yang terkandung dalam daging, mudah dirawat, serta mudah dibersihkan dan didisinfeksi. Peralatan yang memiliki sudut dan atau terbuat dari kayu tidak dapat digunakan untuk daging.
E. Persyaratan Higiene Karyawan dan perusahaan
Untuk pencegahan kontaminasi lingkungan diluar RPH yang terbawa oleh para pekerja terhadap mutu dari karkas yang dihasilkan maka sebuah RPH harus memiliki fasilitas seperti, berupa tempat istirahat, kantin, serta tempat penyimpanan barang pribadi (locker) ataupun ruang ganti pakaian, serta dilakukan pemeriksaan kesehatan bagi setiap pekerja termasuk juga kepada para pengunjung. Akan tetapi kedua RPH ini (RPH Tamangapa dan RPH Tamarunang) kurang memperhatikan hal tersebut. Ini dapat terlihat dari leluasanya pengujung keluar masuk dalam RPH. Lebih lanjut drh.Yudi (2009) menegaskan bahwa penerapan higiene untuk personal di RPH mencakup kesehatan dan kebersihan diri, perilaku/kebiasaan bersih, serta peningkatan pengetahuan/ pemahaman dan kepedulian melalui program pendidikan dan pelatihan yang terprogram dan berkesinambungan. Setiap pegawai yang menangani langsung daging harus sehat dan bersih. Higiene personal yang buruk merupakan salah satu sumber pencemaran terhadap daging.
F. Persyaratan Kesehatan Masyarakat Veteriner
Pengawasan kesehatan masyrakat veteriner dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan antemortem dan postmortem untuk menghasilkan produk yang ASUH (aman, sehat, utuh dan halal). Tetapi pada kenyataannya, RPH Tamangapa kurang memperhatikan hal ini sehingga untuk menghasilkan produk yang ASUH tidak tercapai. Ini dikarenakan tidak adanya dokter-dokter hewan yang memeriksa kesehatan dari ternak sebelum disembelih dan pemeriksaan setelah pemotongan.
G. Kendaraan Pengangkut Daging
Salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh oleh sebuah RPH adalah adanya kendaraan pengangkut daging. Kendaraan tersebut harus memiliki boks yang tertutup, yang dilengkapi dengan alat pendingin yang dapat mempertahankan suhu bagian dalam daging segar +7oC dan bagian dalam jeroan +3oC, serta suhu ruangan boks pengangkut beku maksimum -18oC. Sedaiknya di dalam boks dilengkapi alat penggantung untuk menghindari daging yang menyentuh lantai atau dinding bos pengangkut. Bagian dalam boks harus dilapisi dengan bahan yang tidak toksik serta tidak mudah korosid, mudah dibersihkan (desinfeksi) serta mudah dibersihkan.
Tetapi pada kenyataannya RPH Tamangapa tidak memiliki kendaraan pengangkut daging. Sehingga dalam proses pengangkutnya dilakukan secarea manual sehingga mutu dari daging yang dihasilkan kurang terjamin karena terkontaminasi dengan lingkuang luar. Sedangkan pada RPH Tamarunang telah memiliki kendaraan pengangkut daging tetapi tidak memenuhi persyaratan sehingga daging yang dihasilkan masih dapat terkontaminasi oleh lingkungan luar.
Setiap pengangkutan daging hewan potong dan daging unggas harus menggunakan kendaraan angkutan khusus yang mendapat ijin dari instansi pemberi izin. Fasilitas dan peralatan yang digunakan untuk transpor daging segar harus bersih dan sehat. Fasilitas truk pengangkut daging dan truk pengangkut hewan hidup ditempatkan di dalam atau di luar bangunan yang disediakan Rumah Pemotongan Hewan. Ruang daging dari kendaraan pengangkut daging tidak boleh digunakan untuk tujuan lain dari pada pengangkutan daging (BBPKH, 2008).
DAFTAR PUSTAKA
Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan Badan Pengembangan SDM Pertanian
Jl. Snakma Cisalopa, Kec. Caringin, Kab. Bogor.
dr. Ngurah Diatmika. 2009. Syarat Pendirian RPH. http:// www.bisnisbali.com.
drh. Yudi. 2009. Product Safety Pada Rumah Potong Hewan. http://drhyudi.blogspot. com/2009/07.product-safety.html.
Drs. Mukhlis.r, mm. 2007. Peraturan Daerah Kota Pariaman Tentang Retribusi Rumah Potong Hewan Dan Pemeriksaan Daging. http://www.google.com/ search/perda_rph.pdf.
Eko Priliawito. 2009. Rumah Potong Hewan Harus Kelola Limbah Saluran air. http://metro.vivanews.com/53215/Rumah_potong_hewan.html.
Elok Budi Retnani, dkk. 2004. Jaminan Keamanan Daging Sapi Di Indonesia Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor
Suryo Prabowo, SPt. 2008. Pemantauan Peredaran Daging Menjelang Bulan Ramadhan Tahun 2008 oleh UPTD Rumah Potong Hewan (RPH). Staf UPTD Rumah Potong Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Sragen.
Utoyo. 2008. Peraturan Daerah Kabupaten Magelang Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Pemeriksaan Kesehatan Hewan, Pemotongan Hewan Potong Dan Penanganan Daging. http://google.com/search/perda_rph.pdf.
TUJUH ALAT MEMECAHKAN MASAALAH PENGENDALIAN KUALITAS
1.CHECK SHEET
Check sheet adalah suatu alat yang digunakan untuk memudahkan pengambilan data. Hal–hal penting yang harus ada didalam desain check sheet adalah tipe data yang dikumpulkan, jumlah aktivitas, tanggal, analisa, dan informasi lainnya yang berguna dalam memeriksa performa. Selain itu desain check sheet harus sederhana, mudah dipahami dan digunakan.
Sebuah lembar periksa adalah salah satu dari tujuh kualitas dasar alat. Pengumpulan data dapat sering menjadi tidak terstruktur dan latihan berantakan. Ini adalah bentuk sederhana dapat Anda gunakan untuk mengumpulkan data dalam cara yang terorganisasi dan mudah mengubahnya menjadi mudah bermanfaat information. informasi. Pengumpulan data penting karena merupakan titik awal untuk Fungsi lembar cek adalah untuk menyajikan informasi dalam sebuah Sebuah lembar periksa adalah tabel atau formulir yang digunakan untuk
register sistematis data pada saat data dikumpulkan. data Periksa lembar membantu mengatur data menurut kategori. Mereka menunjukkan berapa kali masing-masing nilai tertentu terjadi, dan mereka informasi yang semakin bermanfaat saat lebih banyak data dikumpulkan. Aplikasi utama dari lembar periksa termasuk mendaftar seberapa sering terjadi masalah yang berbeda dan mendaftarkan frekuensi insiden yang diyakini menimbulkan masalah.
.
2.DIAGRAM PARETO
Definisi diagram Pareto adalah sebuah distribusi frekuensi sederhana (histogram) dari data yang diurutkan berdasarkan kategori dari yang paling besar
sampai yang paling kecil.
Penggunaan Diagram Pareto
Diagram pareto adalah grafik batang yang menunjukkan masalah berdasarkan urutan banyaknya kejadian. Masalah yang paling banyak terjadi ditunjukkan oleh grafik batang yang pertama yang tertinggi serta ditempatkan pada sisi paling kiri, dan seterusnya sampai masalah yang paling sedikit terjadi ditunjukkan oleh grafik batang terakhir yang terendah serta ditempatkan pada sisi paling kanan (Gaspersz,1998). Diagram pareto ini menunjukkan cacat apa yang sering terjadi dari plot data kecacatan dan tidak menunjukkan cacat apa yang paling penting. Prinsip diagram pareto ini adalah 80/20 yang berarti 80% masalah yang timbul dari produk yang dihasilkan berasal dari 20% penyebab kecacatan.
Pada dasarnya diagram Pareto digunakan untuk:
a.Menentukan frekuensi relatif dan urutan pentingnya penyebab dan masalah yang timbul.
b.Memfokuskan perhatian pada isu-isu kritis dan penting melalui pembuatan
ranking terhadap penyebab atau masalah dalam bentuk yang signifikan
Langkah-langkah Pembuatan Diagram Pareto
Pembuatan diagram pareto dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut (Gaspersz,1998):
Menentukan masalah apa yang akan diteliti, menentukan data yang diperlukan dan mengidentifikasi penyebab dari masalah yang akan dibandingkan. Setelah itu merencanakan dan melaksanakan pengumpulan data.
a.Menentukan masalah apa yang akan diteliti, contoh masalah: keterlambatan pengiriman barang, keterlambatan pelayanan, kerugian dalam nilai uang. Penyebab-penyebab dari masalah dapat diidentifikasikan
oleh pihak manajemen. Contoh: penyebab dari masalah keterlambatan pengiriman barang adalah kekurangan personel, kekurangan alat transportasi, dan terlalu sibuk.
b.Menentukan data apa yang diperlukan dan bagaimana mengklasifikasikan
data itu. Contoh: klasifikasi berdasarkan keterlambatan, jenis kerusakan, lokasi proses, dan mesin.
c.Menentukan metode dan periode dalam mengumpulkan data. Dalam hal
ini termasuk menentukan unit pengukuran dan periode waktu yang dikaji.
Membuat suatu ringkasan daftar atau tabel yang mencatat frekuensi kejadian dari masalah yang telah diteliti dengan menggunakan formulir pengumpulan data atau lembar periksa.
Membuat daftar masalah secara berurutan berdasarkan frekuensi kejadian dari yang tertinggi sampai yang terendah, serta menghitung frekuensi kumulatif,
prosentase dari total kejadian, dan prosentase dari total kejadian secara kumulatif.
3.DIAGRAM SEBAB AKIBAT
Diagram sebab akibat biasa disebut juga fishbone diagram. Merupakan
sebuah diagram yang menunjukkan hubungan antara karakteristik mutu dan faktor
penyebab kecacatan yang potensial.
Penggunaan Diagram Sebab Akibat
Diagram sebab akibat adalah diagram yang menunjukkan hubungan antara
sebab dan akibat. Berkaitan dengan pengendalian proses secara statistik, diagram sebab akibat dipergunakan untuk menunjukkan faktor-faktor penyebab (sebab) dan karakteristik kualitas (akibat) yang disebabkan oleh faktor-faktor penyebab.
Diagram sebab akibat sering juga disebut sebagai diagram tulang ikan (fishbone
diagram) karena bentuknya seperti kerangka ikan, atau diagram Ishikawa karena
pertama kali diperkenalkan oleh Prof. Kaoru Ishikawa dari Universitas Tokyo
pada tahun 1953 (Gaspersz, 1998). Pada diagram tulang ikan, permasalahan yang terjadi ditunjukkan pada bagian kanan, cabang utama dikaitkan pada penyebab utama dan setiap cabang utama memiliki daftar penyebab yang lebih spesifik lagi.
Brainstorming dapat digunakan untuk membantu menentukan penyebab dari akibat yang dihasilkan dalam mendesain sebuah diagram sebab akibat.
Kegunaan Brainstorming antara lain: (Gaspersz, 2001):
1.Menentukan penyebab yang mungkin dari masalah-masalah dalam proses dan solusi terhadap masalah-masalah itu.
2.Memutuskan masalah apa (kesempatan peningkatan apa) yang perlu
diselesaikan
3.Anggota tim merasa bebas untuk berbicara dan menyumbangkan ide-ide
kreatif.
4.Menginginkan untuk menjaring sejumlah besar persepsi alternatif.
5.Kreatifitas merupakan karakteristik outcome yang diinginkan.
6.Fasilitator dapat secara efektif mengelola tim kerja sama itu.
Pada dasarnya diagram sebab akibat dapat dipergunakan untuk kebutuhan-
kebutuhan berikut (Gaspersz, 2001):
• Membantu mengidentifikasikan akar penyebab dari suatu masalah.
• Membantu membangkitkan ide-ide untuk solusi suatu masalah.
• Membantu dalam penyelidikan atau pencarian fakta lebih lanjut.
Langkah-langkah Pembuatan Diagram Sebab Akibat
Langkah-langkah dalam pembuatan diagram sebab akibat dapat dikemukakan sebagai berikut (Gaspersz, 2001):
1.Mulai dengan pernyataan masalah-masalah utama yang penting dan mendesak untuk diselesaikan.
2.Menuliskan pernyataan masalah itu pada ”kepala ikan:, yang merupakan
akibat. Tuliskan pada sisi kanan dari kertas (kepala ikan), kemudian
gambarkan ”tulang belakang” dari kiri ke kanan dan tempat pernyataan
masalah itu adalah kotak.
3.Menuliskan faktor-faktor penyebab utama yang mempengaruhi masalah
kualitas sebagai ”tulang besar”, juga ditempatkan dalam kotak. Faktor-faktor penyebab utama dapat dikembangkan melalui stratifikasi kedalam pengelompokan dari faktor-faktor: manusia, mesin, peralatan, material, metode kerja, lingkungan kerja, atau stratifikasi melalui langkah-langkah aktual dalam proses. Faktor-faktor penyebab atau kategori-kategori dapat dikembangkan melalui brainstorming.
4.Menuliskan penyebab-penyebab sekunder yang mempengaruhi penyebab-
penyebab utama, serta penyebab-penyebab tersier itu dinyatakan sebagai
”tulang-tulang berukuran sedang”
5.Menuliskan penyebab-penyebab tersier yang mempengaruhi penyebab-
penyebab sekunder, serta penyebab-penyebab tersier itu dinyatakan sebagai ”tulang-tulang berukuran kecil”.
6.Menentukan bagian yang penting dari setiap faktor dan menandai faktor-faktor penting tertentu yang memiliki pengaruh nyata terhadap karakteristik kualitas.
7.Mencatat informasi yang perlu di dalam diagram sebab akibat itu, seperti:
judul, nama produk, atau proses
4.SCATTER DIAGRAM
Scatter Diagram adalah alat untuk menentukan korelasi potensial antara dua rangkaian variabel yang berbeda, yaitu bagaimana perubahan satu variabel dengan variabel lain. Ini hanya Diagram plot pasang sesuai data dari dua variabel, yang biasanya dua variabel dalam suatu proses yang dipelajari. Para diagram pencar tidak menentukan hubungan yang tepat antara dua variabel, tapi itu tidak menunjukkan apakah mereka berkorelasi atau tidak. itu, dengan sendirinya, juga tidak memprediksi hubungan sebab dan akibat antara variabel-variabel ini.
Diagram pencar digunakan untuk: 1) segera mengkonfirmasi hipotesis bahwa dua variabel tersebut berkorelasi; 2) memberikan representasi grafis kekuatan hubungan antara dua variabel; dan 3) berfungsi sebagai langkah tindak lanjut untuk sebab-akibat analisis untuk menentukan apakah perubahan dalam mengidentifikasi penyebab memang dapat menghasilkan perubahan dalam efek diidentifikasi.
Interpretasi diagram pencar yang dihasilkan adalah yang sederhana seperti melihat pola yang dibentuk oleh poin. Jika titik data digambarkan pada diagram pencar di seluruh tempat yang tidak memiliki pola yang jelas apa pun, maka tidak ada korelasi sama sekali antara dua variabel diagram pencar.
5.HISTOGRAM
histogram adalah tampilan grafis dari tabel frekuensi, ditampilkan sebagai berdekatan empat persegi panjang. Setiap persegi panjang adalah dibangun di atas interval, dengan luas sama dengan frekuensi interval. Tinggi persegi panjang juga sama dengan kepadatan frekuensi interval, yaitu frekuensi dibagi dengan lebar interval. The Luas total histogram adalah sama dengan jumlah data. Sebuah histogram juga mungkin didasarkan pada frekuensi relatif sebagai gantinya 1. Kemudian menunjukkan proporsi kasus apa yang jatuh ke dalam masing-masing dari beberapa kategori (suatu bentuk Binning data), dan wilayah total kemudian sama dengan Kategori biasanya ditentukan sebagai berturut-turut, tidak tumpang tindih dengan interval dari beberapa variabel. Kategori (interval) harus berdekatan, dan sering dipilih untuk menjadi ukuran yang sama, [1] tetapi tidak sepenuhnya begitu.
Histogram digunakan untuk merencanakan kepadatan data, dan sering untuk estimasi densitas: memperkirakan probabilitas fungsi kepadatan variabel yang mendasarinya Luas total histogram digunakan untuk kerapatan probabilitas selalu dinormalkan ke 1. Jika panjang interval pada sumbu x adalah 1, maka histogram adalah identik dengan frekuensi relatif plot. Alternatif untuk histogram adalah estimasi densitas kernel, yang menggunakan kernel untuk meratakan sampel. Ini akan membangun sebuah mulus probabilitas fungsi kepadatan, yang pada umumnya lebih akurat mencerminkan variabel yang mendasarinya. [ 2 ] Histogram adalah salah satu dari tujuh alat dasar kontrol kualitas.
Histogram adalah ringkasan data yang berguna yang menyampaikan informasi sebagai berikut:
•Bentuk umum distribusi frekuensi (normal, chi-kuadrat, dll)
•Simetri dari distribusi dan apakah itu dapat dipengaruhi
•Modalitas - unimodal, bimodal, atau multimodal
Histogram dari distribusi frekuensi dapat diubah menjadi sebuah distribusi probabilitas dengan membagi penghitungan di masing-masing kelompok dengan total jumlah titik data untuk memberikan frekuensi relatif. Bentuk distribusi menyampaikan informasi penting seperti distribusi probabilitas data. Dalam kasus-kasus di mana distribusi diketahui, histogram yang tidak sesuai dengan distribusi dapat memberikan petunjuk tentang proses dan masalah pengukuran. Sebagai contoh, histogram yang menunjukkan frekuensi lebih tinggi dari yang normal dalam tong sampah di dekat salah satu ujungnya dan kemudian tajam drop-off mungkin menunjukkan bahwa si pengamat adalah "membantu" hasil dengan klasifikasi data yang ekstrim dalam kelompok yang kurang ekstrim.
Bin Lebar
Bentuk histogram kadang-kadang sangat sensitif terhadap jumlah sampah. Jika sampah terlalu lebar, informasi penting yang mungkin bisa dihilangkan. Sebagai contoh, data tersebut dapat bimodal tapi karakteristik ini mungkin tidak terlihat jika sampah terlalu lebar. Di sisi lain, jika sampah terlalu sempit, apa yang mungkin tampak benar-benar informasi yang berarti mungkin disebabkan oleh variasi acak yang muncul karena sejumlah kecil data titik dalam sebuah sampah. Untuk menentukan apakah bin lebar diatur ke ukuran yang sesuai, lebar bin berbeda harus digunakan dan hasilnya dibandingkan untuk menentukan kepekaan bentuk histogram terhadap ukuran bin Lebar bin biasanya dipilih sehingga terdapat antara 5 dan 20 kelompok data, tapi nomor yang sesuai tergantung pada situasi.
Histogram
6.STRATIFIKASI
Stratifikasi adalah suatu teknik yang digunakan dalam kombinasi dengan alat analisis data lain. Ketika data dari berbagai sumber atau kategori yang telah disatukan, makna data dapat mustahil untuk melihat. Teknik ini memisahkan pola data sehingga dapat dilihat.
•Sebelum mengumpulkan data.
•Ketika data datang dari beberapa sumber atau kondisi, seperti pergeseran, hari dalam seminggu, pemasok atau kelompok penduduk.
•Ketika analisis data mungkin memerlukan sumber atau memisahkan kondisi yang berbeda.
Stratifikasi Prosedur
1.Sebelum pengumpulan data, mempertimbangkan informasi tentang sumber data mungkin memiliki efek pada hasil. Mengatur pengumpulan data sehingga Anda mengumpulkan informasi itu juga.
2.Ketika merencanakan atau grafik data yang dikumpulkan pada diagram pencar, diagram kontrol, histogram atau alat analisis lainnya, gunakan tanda atau warna yang berbeda untuk membedakan data dari berbagai sumber Data yang dibedakan dalam cara ini dikatakan sebagai "berlapis."
3.Menganalisis subset dari data berlapis secara terpisah. Sebagai contoh, pada diagram pencar data di mana stratifikasi ke dalam data dari sumber 1 dan data dari sumber 2, menggambar kuadran, menghitung poin dan menentukan nilai kritis hanya untuk data dari sumber 1, maka hanya untuk data dari source 2.
Stratifikasi Pertimbangan
•Berikut adalah contoh-contoh dari berbagai sumber yang mungkin memerlukan data yang bertingkat-tingkat:
o Equipment; Equipment
o Shifts; Pergeseran
o Departments; Departemen
o Materials; Bahan
o Suppliers; Pemasok
o Day of the week; Hari minggu
o Time of day ;Waktu dalam sehari
o Products; Produk
Survey data usually benefit from stratification. Biasanya data survei manfaat dari stratifikasi.
•Selalu pertimbangkan sebelum mengumpulkan data apakah stratifikasi mungkin diperlukan selama analisis. Stratifikasi rencana untuk mengumpulkan informasi. Setelah data yang dikumpulkan ini mungkin sudah terlambat.
•Pada grafik atau tabel, termasuk legenda yang mengidentifikasi tanda-tanda atau warna yang digunakan.
7.KONTROL CHART
Bagan kontrol adalah grafik digunakan untuk mempelajari bagaimana sebuah proses perubahan dari waktu ke waktu. Data diplot dalam urutan waktu. Sebuah bagan kontrol selalu mempunyai garis pusat untuk rata-rata, sebuah baris atas untuk batas kontrol atas dan garis yang lebih rendah untuk batas kontrol bawah. Garis-garis ini ditentukan dari data historis. Dengan membandingkan data saat ini baris ini, Anda dapat menarik kesimpulan apakah variasi proses konsisten (dalam pengendalian) atau tidak dapat diprediksi (di luar kendali, dipengaruhi oleh variasi penyebab khusus).
Kontrol grafik untuk data variabel digunakan berpasangan. Monitor grafik di atas rata-rata, atau berpusat dari distribusi data dari proses. Bagan bawah memantau atau kisaran lebar dari distribusi. Jika data anda sasaran tembakan dalam praktek, rata-rata adalah tempat Suntikan clustering, dan kisaran adalah seberapa erat mereka berkumpul. Control chart untuk atribut data yang digunakan sendiri-sendiri.
Kapan Gunakan Control Chart
•Ketika mengendalikan proses yang sedang berlangsung dengan menemukan dan memperbaiki masalah yang terjadi.
•Ketika memperkirakan kisaran yang diharapkan hasil dari suatu proses.
•Ketika menentukan apakah suatu proses yang stabil (dalam statistik DNS).
•Ketika menganalisis proses pola variasi dari sebab khusus (non-acara rutin) atau penyebab umum (yang dibangun dalam proses).
•Ketika menentukan apakah proyek peningkatan kualitas Anda harus bertujuan untuk mencegah masalah-masalah tertentu atau untuk membuat perubahan mendasar pada proses ini.
Control Chart Basic Procedure
1.Pilih yang sesuai bagan kontrol untuk data Anda.
2.Tentukan jangka waktu yang tepat untuk mengumpulkan data dan merencanakan.
3.Mengumpulkan data, membangun bagan Anda dan menganalisis data.
4.out-of-sinyal kontrol" pada bagan kontrol. Ketika satu diidentifikasi, tandai pada grafik dan menyelidiki penyebabnya. Dokumen bagaimana Anda diselidiki, apa yang Anda pelajari, penyebab dan bagaimana itu diperbaiki.
Out-of-sinyal kendali
o Satu titik di luar batas-batas kontrol. Dalam Gambar 1, poin enam belas berada di atas UCL (Batas kontrol atas).
o Dua dari tiga poin berturut-turut pada sisi yang sama dari tengah dan lebih jauh dari 2 σ dari itu. Dalam Gambar 1, butir 4 mengirimkan sinyal itu.
o Empat dari lima poin berturut-turut berada pada sisi yang sama dari tengah dan lebih jauh dari 1 σ dari itu. Dalam Gambar 1, poin 11 mengirimkan sinyal itu.
o Putaran dari delapan secara berturut-turut berada pada sisi yang sama dari garis tengah. Atau 10 dari 11, 12 dari 14 atau 16 dari 20. Dalam Gambar 1, poin 21 adalah kedelapan berturut-turut di atas tengah.
o Konsisten atau berkelanjutan jelas pola yang menyarankan sesuatu yang tidak biasa tentang data dan proses Anda.
Gambar 1 Control Chart: Out-of-Control Signals
5.Terus data plot seperti yang dihasilkan. Karena masing-masing titik data baru diplot, periksa baru out-of-sinyal kontrol.
6.Ketika Anda memulai bagan kontrol baru, proses mungkin berada di luar kendali Jika demikian, batas-batas kontrol dihitung dari 20 poin pertama yang bersyarat batas. Bila Anda memiliki paling sedikit 20 berurutan poin dari masa ketika proses beroperasi di kontrol, menghitung ulang batas-batas kontrol.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2010. http://en.wikipedia.org/wiki/Histogram. di akses pada tanggal 29 maret 2010.
Disarikan dari Nancy R. Tague 's The Quality Toolbox, Second Edition, ASQ Quality Press, 2004, halaman 485-487.
-------------,Tague 's The Quality Toolbox, Second Edition, ASQ Quality Press, 2004, halaman 155-158.
Check sheet adalah suatu alat yang digunakan untuk memudahkan pengambilan data. Hal–hal penting yang harus ada didalam desain check sheet adalah tipe data yang dikumpulkan, jumlah aktivitas, tanggal, analisa, dan informasi lainnya yang berguna dalam memeriksa performa. Selain itu desain check sheet harus sederhana, mudah dipahami dan digunakan.
Sebuah lembar periksa adalah salah satu dari tujuh kualitas dasar alat. Pengumpulan data dapat sering menjadi tidak terstruktur dan latihan berantakan. Ini adalah bentuk sederhana dapat Anda gunakan untuk mengumpulkan data dalam cara yang terorganisasi dan mudah mengubahnya menjadi mudah bermanfaat information. informasi. Pengumpulan data penting karena merupakan titik awal untuk Fungsi lembar cek adalah untuk menyajikan informasi dalam sebuah Sebuah lembar periksa adalah tabel atau formulir yang digunakan untuk
register sistematis data pada saat data dikumpulkan. data Periksa lembar membantu mengatur data menurut kategori. Mereka menunjukkan berapa kali masing-masing nilai tertentu terjadi, dan mereka informasi yang semakin bermanfaat saat lebih banyak data dikumpulkan. Aplikasi utama dari lembar periksa termasuk mendaftar seberapa sering terjadi masalah yang berbeda dan mendaftarkan frekuensi insiden yang diyakini menimbulkan masalah.
.
2.DIAGRAM PARETO
Definisi diagram Pareto adalah sebuah distribusi frekuensi sederhana (histogram) dari data yang diurutkan berdasarkan kategori dari yang paling besar
sampai yang paling kecil.
Penggunaan Diagram Pareto
Diagram pareto adalah grafik batang yang menunjukkan masalah berdasarkan urutan banyaknya kejadian. Masalah yang paling banyak terjadi ditunjukkan oleh grafik batang yang pertama yang tertinggi serta ditempatkan pada sisi paling kiri, dan seterusnya sampai masalah yang paling sedikit terjadi ditunjukkan oleh grafik batang terakhir yang terendah serta ditempatkan pada sisi paling kanan (Gaspersz,1998). Diagram pareto ini menunjukkan cacat apa yang sering terjadi dari plot data kecacatan dan tidak menunjukkan cacat apa yang paling penting. Prinsip diagram pareto ini adalah 80/20 yang berarti 80% masalah yang timbul dari produk yang dihasilkan berasal dari 20% penyebab kecacatan.
Pada dasarnya diagram Pareto digunakan untuk:
a.Menentukan frekuensi relatif dan urutan pentingnya penyebab dan masalah yang timbul.
b.Memfokuskan perhatian pada isu-isu kritis dan penting melalui pembuatan
ranking terhadap penyebab atau masalah dalam bentuk yang signifikan
Langkah-langkah Pembuatan Diagram Pareto
Pembuatan diagram pareto dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut (Gaspersz,1998):
Menentukan masalah apa yang akan diteliti, menentukan data yang diperlukan dan mengidentifikasi penyebab dari masalah yang akan dibandingkan. Setelah itu merencanakan dan melaksanakan pengumpulan data.
a.Menentukan masalah apa yang akan diteliti, contoh masalah: keterlambatan pengiriman barang, keterlambatan pelayanan, kerugian dalam nilai uang. Penyebab-penyebab dari masalah dapat diidentifikasikan
oleh pihak manajemen. Contoh: penyebab dari masalah keterlambatan pengiriman barang adalah kekurangan personel, kekurangan alat transportasi, dan terlalu sibuk.
b.Menentukan data apa yang diperlukan dan bagaimana mengklasifikasikan
data itu. Contoh: klasifikasi berdasarkan keterlambatan, jenis kerusakan, lokasi proses, dan mesin.
c.Menentukan metode dan periode dalam mengumpulkan data. Dalam hal
ini termasuk menentukan unit pengukuran dan periode waktu yang dikaji.
Membuat suatu ringkasan daftar atau tabel yang mencatat frekuensi kejadian dari masalah yang telah diteliti dengan menggunakan formulir pengumpulan data atau lembar periksa.
Membuat daftar masalah secara berurutan berdasarkan frekuensi kejadian dari yang tertinggi sampai yang terendah, serta menghitung frekuensi kumulatif,
prosentase dari total kejadian, dan prosentase dari total kejadian secara kumulatif.
3.DIAGRAM SEBAB AKIBAT
Diagram sebab akibat biasa disebut juga fishbone diagram. Merupakan
sebuah diagram yang menunjukkan hubungan antara karakteristik mutu dan faktor
penyebab kecacatan yang potensial.
Penggunaan Diagram Sebab Akibat
Diagram sebab akibat adalah diagram yang menunjukkan hubungan antara
sebab dan akibat. Berkaitan dengan pengendalian proses secara statistik, diagram sebab akibat dipergunakan untuk menunjukkan faktor-faktor penyebab (sebab) dan karakteristik kualitas (akibat) yang disebabkan oleh faktor-faktor penyebab.
Diagram sebab akibat sering juga disebut sebagai diagram tulang ikan (fishbone
diagram) karena bentuknya seperti kerangka ikan, atau diagram Ishikawa karena
pertama kali diperkenalkan oleh Prof. Kaoru Ishikawa dari Universitas Tokyo
pada tahun 1953 (Gaspersz, 1998). Pada diagram tulang ikan, permasalahan yang terjadi ditunjukkan pada bagian kanan, cabang utama dikaitkan pada penyebab utama dan setiap cabang utama memiliki daftar penyebab yang lebih spesifik lagi.
Brainstorming dapat digunakan untuk membantu menentukan penyebab dari akibat yang dihasilkan dalam mendesain sebuah diagram sebab akibat.
Kegunaan Brainstorming antara lain: (Gaspersz, 2001):
1.Menentukan penyebab yang mungkin dari masalah-masalah dalam proses dan solusi terhadap masalah-masalah itu.
2.Memutuskan masalah apa (kesempatan peningkatan apa) yang perlu
diselesaikan
3.Anggota tim merasa bebas untuk berbicara dan menyumbangkan ide-ide
kreatif.
4.Menginginkan untuk menjaring sejumlah besar persepsi alternatif.
5.Kreatifitas merupakan karakteristik outcome yang diinginkan.
6.Fasilitator dapat secara efektif mengelola tim kerja sama itu.
Pada dasarnya diagram sebab akibat dapat dipergunakan untuk kebutuhan-
kebutuhan berikut (Gaspersz, 2001):
• Membantu mengidentifikasikan akar penyebab dari suatu masalah.
• Membantu membangkitkan ide-ide untuk solusi suatu masalah.
• Membantu dalam penyelidikan atau pencarian fakta lebih lanjut.
Langkah-langkah Pembuatan Diagram Sebab Akibat
Langkah-langkah dalam pembuatan diagram sebab akibat dapat dikemukakan sebagai berikut (Gaspersz, 2001):
1.Mulai dengan pernyataan masalah-masalah utama yang penting dan mendesak untuk diselesaikan.
2.Menuliskan pernyataan masalah itu pada ”kepala ikan:, yang merupakan
akibat. Tuliskan pada sisi kanan dari kertas (kepala ikan), kemudian
gambarkan ”tulang belakang” dari kiri ke kanan dan tempat pernyataan
masalah itu adalah kotak.
3.Menuliskan faktor-faktor penyebab utama yang mempengaruhi masalah
kualitas sebagai ”tulang besar”, juga ditempatkan dalam kotak. Faktor-faktor penyebab utama dapat dikembangkan melalui stratifikasi kedalam pengelompokan dari faktor-faktor: manusia, mesin, peralatan, material, metode kerja, lingkungan kerja, atau stratifikasi melalui langkah-langkah aktual dalam proses. Faktor-faktor penyebab atau kategori-kategori dapat dikembangkan melalui brainstorming.
4.Menuliskan penyebab-penyebab sekunder yang mempengaruhi penyebab-
penyebab utama, serta penyebab-penyebab tersier itu dinyatakan sebagai
”tulang-tulang berukuran sedang”
5.Menuliskan penyebab-penyebab tersier yang mempengaruhi penyebab-
penyebab sekunder, serta penyebab-penyebab tersier itu dinyatakan sebagai ”tulang-tulang berukuran kecil”.
6.Menentukan bagian yang penting dari setiap faktor dan menandai faktor-faktor penting tertentu yang memiliki pengaruh nyata terhadap karakteristik kualitas.
7.Mencatat informasi yang perlu di dalam diagram sebab akibat itu, seperti:
judul, nama produk, atau proses
4.SCATTER DIAGRAM
Scatter Diagram adalah alat untuk menentukan korelasi potensial antara dua rangkaian variabel yang berbeda, yaitu bagaimana perubahan satu variabel dengan variabel lain. Ini hanya Diagram plot pasang sesuai data dari dua variabel, yang biasanya dua variabel dalam suatu proses yang dipelajari. Para diagram pencar tidak menentukan hubungan yang tepat antara dua variabel, tapi itu tidak menunjukkan apakah mereka berkorelasi atau tidak. itu, dengan sendirinya, juga tidak memprediksi hubungan sebab dan akibat antara variabel-variabel ini.
Diagram pencar digunakan untuk: 1) segera mengkonfirmasi hipotesis bahwa dua variabel tersebut berkorelasi; 2) memberikan representasi grafis kekuatan hubungan antara dua variabel; dan 3) berfungsi sebagai langkah tindak lanjut untuk sebab-akibat analisis untuk menentukan apakah perubahan dalam mengidentifikasi penyebab memang dapat menghasilkan perubahan dalam efek diidentifikasi.
Interpretasi diagram pencar yang dihasilkan adalah yang sederhana seperti melihat pola yang dibentuk oleh poin. Jika titik data digambarkan pada diagram pencar di seluruh tempat yang tidak memiliki pola yang jelas apa pun, maka tidak ada korelasi sama sekali antara dua variabel diagram pencar.
5.HISTOGRAM
histogram adalah tampilan grafis dari tabel frekuensi, ditampilkan sebagai berdekatan empat persegi panjang. Setiap persegi panjang adalah dibangun di atas interval, dengan luas sama dengan frekuensi interval. Tinggi persegi panjang juga sama dengan kepadatan frekuensi interval, yaitu frekuensi dibagi dengan lebar interval. The Luas total histogram adalah sama dengan jumlah data. Sebuah histogram juga mungkin didasarkan pada frekuensi relatif sebagai gantinya 1. Kemudian menunjukkan proporsi kasus apa yang jatuh ke dalam masing-masing dari beberapa kategori (suatu bentuk Binning data), dan wilayah total kemudian sama dengan Kategori biasanya ditentukan sebagai berturut-turut, tidak tumpang tindih dengan interval dari beberapa variabel. Kategori (interval) harus berdekatan, dan sering dipilih untuk menjadi ukuran yang sama, [1] tetapi tidak sepenuhnya begitu.
Histogram digunakan untuk merencanakan kepadatan data, dan sering untuk estimasi densitas: memperkirakan probabilitas fungsi kepadatan variabel yang mendasarinya Luas total histogram digunakan untuk kerapatan probabilitas selalu dinormalkan ke 1. Jika panjang interval pada sumbu x adalah 1, maka histogram adalah identik dengan frekuensi relatif plot. Alternatif untuk histogram adalah estimasi densitas kernel, yang menggunakan kernel untuk meratakan sampel. Ini akan membangun sebuah mulus probabilitas fungsi kepadatan, yang pada umumnya lebih akurat mencerminkan variabel yang mendasarinya. [ 2 ] Histogram adalah salah satu dari tujuh alat dasar kontrol kualitas.
Histogram adalah ringkasan data yang berguna yang menyampaikan informasi sebagai berikut:
•Bentuk umum distribusi frekuensi (normal, chi-kuadrat, dll)
•Simetri dari distribusi dan apakah itu dapat dipengaruhi
•Modalitas - unimodal, bimodal, atau multimodal
Histogram dari distribusi frekuensi dapat diubah menjadi sebuah distribusi probabilitas dengan membagi penghitungan di masing-masing kelompok dengan total jumlah titik data untuk memberikan frekuensi relatif. Bentuk distribusi menyampaikan informasi penting seperti distribusi probabilitas data. Dalam kasus-kasus di mana distribusi diketahui, histogram yang tidak sesuai dengan distribusi dapat memberikan petunjuk tentang proses dan masalah pengukuran. Sebagai contoh, histogram yang menunjukkan frekuensi lebih tinggi dari yang normal dalam tong sampah di dekat salah satu ujungnya dan kemudian tajam drop-off mungkin menunjukkan bahwa si pengamat adalah "membantu" hasil dengan klasifikasi data yang ekstrim dalam kelompok yang kurang ekstrim.
Bin Lebar
Bentuk histogram kadang-kadang sangat sensitif terhadap jumlah sampah. Jika sampah terlalu lebar, informasi penting yang mungkin bisa dihilangkan. Sebagai contoh, data tersebut dapat bimodal tapi karakteristik ini mungkin tidak terlihat jika sampah terlalu lebar. Di sisi lain, jika sampah terlalu sempit, apa yang mungkin tampak benar-benar informasi yang berarti mungkin disebabkan oleh variasi acak yang muncul karena sejumlah kecil data titik dalam sebuah sampah. Untuk menentukan apakah bin lebar diatur ke ukuran yang sesuai, lebar bin berbeda harus digunakan dan hasilnya dibandingkan untuk menentukan kepekaan bentuk histogram terhadap ukuran bin Lebar bin biasanya dipilih sehingga terdapat antara 5 dan 20 kelompok data, tapi nomor yang sesuai tergantung pada situasi.
Histogram
6.STRATIFIKASI
Stratifikasi adalah suatu teknik yang digunakan dalam kombinasi dengan alat analisis data lain. Ketika data dari berbagai sumber atau kategori yang telah disatukan, makna data dapat mustahil untuk melihat. Teknik ini memisahkan pola data sehingga dapat dilihat.
•Sebelum mengumpulkan data.
•Ketika data datang dari beberapa sumber atau kondisi, seperti pergeseran, hari dalam seminggu, pemasok atau kelompok penduduk.
•Ketika analisis data mungkin memerlukan sumber atau memisahkan kondisi yang berbeda.
Stratifikasi Prosedur
1.Sebelum pengumpulan data, mempertimbangkan informasi tentang sumber data mungkin memiliki efek pada hasil. Mengatur pengumpulan data sehingga Anda mengumpulkan informasi itu juga.
2.Ketika merencanakan atau grafik data yang dikumpulkan pada diagram pencar, diagram kontrol, histogram atau alat analisis lainnya, gunakan tanda atau warna yang berbeda untuk membedakan data dari berbagai sumber Data yang dibedakan dalam cara ini dikatakan sebagai "berlapis."
3.Menganalisis subset dari data berlapis secara terpisah. Sebagai contoh, pada diagram pencar data di mana stratifikasi ke dalam data dari sumber 1 dan data dari sumber 2, menggambar kuadran, menghitung poin dan menentukan nilai kritis hanya untuk data dari sumber 1, maka hanya untuk data dari source 2.
Stratifikasi Pertimbangan
•Berikut adalah contoh-contoh dari berbagai sumber yang mungkin memerlukan data yang bertingkat-tingkat:
o Equipment; Equipment
o Shifts; Pergeseran
o Departments; Departemen
o Materials; Bahan
o Suppliers; Pemasok
o Day of the week; Hari minggu
o Time of day ;Waktu dalam sehari
o Products; Produk
Survey data usually benefit from stratification. Biasanya data survei manfaat dari stratifikasi.
•Selalu pertimbangkan sebelum mengumpulkan data apakah stratifikasi mungkin diperlukan selama analisis. Stratifikasi rencana untuk mengumpulkan informasi. Setelah data yang dikumpulkan ini mungkin sudah terlambat.
•Pada grafik atau tabel, termasuk legenda yang mengidentifikasi tanda-tanda atau warna yang digunakan.
7.KONTROL CHART
Bagan kontrol adalah grafik digunakan untuk mempelajari bagaimana sebuah proses perubahan dari waktu ke waktu. Data diplot dalam urutan waktu. Sebuah bagan kontrol selalu mempunyai garis pusat untuk rata-rata, sebuah baris atas untuk batas kontrol atas dan garis yang lebih rendah untuk batas kontrol bawah. Garis-garis ini ditentukan dari data historis. Dengan membandingkan data saat ini baris ini, Anda dapat menarik kesimpulan apakah variasi proses konsisten (dalam pengendalian) atau tidak dapat diprediksi (di luar kendali, dipengaruhi oleh variasi penyebab khusus).
Kontrol grafik untuk data variabel digunakan berpasangan. Monitor grafik di atas rata-rata, atau berpusat dari distribusi data dari proses. Bagan bawah memantau atau kisaran lebar dari distribusi. Jika data anda sasaran tembakan dalam praktek, rata-rata adalah tempat Suntikan clustering, dan kisaran adalah seberapa erat mereka berkumpul. Control chart untuk atribut data yang digunakan sendiri-sendiri.
Kapan Gunakan Control Chart
•Ketika mengendalikan proses yang sedang berlangsung dengan menemukan dan memperbaiki masalah yang terjadi.
•Ketika memperkirakan kisaran yang diharapkan hasil dari suatu proses.
•Ketika menentukan apakah suatu proses yang stabil (dalam statistik DNS).
•Ketika menganalisis proses pola variasi dari sebab khusus (non-acara rutin) atau penyebab umum (yang dibangun dalam proses).
•Ketika menentukan apakah proyek peningkatan kualitas Anda harus bertujuan untuk mencegah masalah-masalah tertentu atau untuk membuat perubahan mendasar pada proses ini.
Control Chart Basic Procedure
1.Pilih yang sesuai bagan kontrol untuk data Anda.
2.Tentukan jangka waktu yang tepat untuk mengumpulkan data dan merencanakan.
3.Mengumpulkan data, membangun bagan Anda dan menganalisis data.
4.out-of-sinyal kontrol" pada bagan kontrol. Ketika satu diidentifikasi, tandai pada grafik dan menyelidiki penyebabnya. Dokumen bagaimana Anda diselidiki, apa yang Anda pelajari, penyebab dan bagaimana itu diperbaiki.
Out-of-sinyal kendali
o Satu titik di luar batas-batas kontrol. Dalam Gambar 1, poin enam belas berada di atas UCL (Batas kontrol atas).
o Dua dari tiga poin berturut-turut pada sisi yang sama dari tengah dan lebih jauh dari 2 σ dari itu. Dalam Gambar 1, butir 4 mengirimkan sinyal itu.
o Empat dari lima poin berturut-turut berada pada sisi yang sama dari tengah dan lebih jauh dari 1 σ dari itu. Dalam Gambar 1, poin 11 mengirimkan sinyal itu.
o Putaran dari delapan secara berturut-turut berada pada sisi yang sama dari garis tengah. Atau 10 dari 11, 12 dari 14 atau 16 dari 20. Dalam Gambar 1, poin 21 adalah kedelapan berturut-turut di atas tengah.
o Konsisten atau berkelanjutan jelas pola yang menyarankan sesuatu yang tidak biasa tentang data dan proses Anda.
Gambar 1 Control Chart: Out-of-Control Signals
5.Terus data plot seperti yang dihasilkan. Karena masing-masing titik data baru diplot, periksa baru out-of-sinyal kontrol.
6.Ketika Anda memulai bagan kontrol baru, proses mungkin berada di luar kendali Jika demikian, batas-batas kontrol dihitung dari 20 poin pertama yang bersyarat batas. Bila Anda memiliki paling sedikit 20 berurutan poin dari masa ketika proses beroperasi di kontrol, menghitung ulang batas-batas kontrol.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2010. http://en.wikipedia.org/wiki/Histogram. di akses pada tanggal 29 maret 2010.
Disarikan dari Nancy R. Tague 's The Quality Toolbox, Second Edition, ASQ Quality Press, 2004, halaman 485-487.
-------------,Tague 's The Quality Toolbox, Second Edition, ASQ Quality Press, 2004, halaman 155-158.
reproduksi
PENDAHULUAN
Pengertian Reproduksi
Reproduksi atau perkembangbiakan merupakan bagian dari ilmu faal
( fisiologi ). Reproduksi secara fisiologis tidak vital bagi kehidupan individual dan meskipun siklus reproduksi suatu hewan berhenti, hewan tersebut masih dapat bertahan hidup, sebagai contoh hewan yang diambil organ reproduksinya ( testes atau ovarium ) hewan tersebut tidak mati. Pada umumnya reproduksi baru dapat berlangsung setelah hewan mencapai masa pubertas atau dewasa kelamin, dan hal ini diatur oleh kelenjar-kelenjar endokrin dan hormon yang dihasilkan dalam tubuh hewan. Hewan tingkat tinggi, termasuk ternak, bereproduksi secara seksual, dan proses reproduksinya meliputi beberapa tingkatan fisiologik yang meliputi fungsi-fungsi yang sangat komplek dan terintegrasi antara proses yang satu dengan yang lainnya. Tingkatan-tingkatan fisiologik tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pembentukan sel-sel kelamin ( gamet )
2. Pelepasan sel-sel gamet yang telah berdiferensiasi secara fungsional
3. Perkawinan untuk mempertemukan gamet jantan dan gamet betina
4. Fertilisasi, fusi antara kedua pronuclei
5. Pertumbuhan, diferensiasi dan perkembangan zigote sampai kelahiran normal
1.1 Peranan Proses Reproduksi Dalam Kehidupan Makhluk Hidup
Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa reproduksi secara fisiologik tidak vital bagi kehidupan makhluk hidup, tetapi reproduksi merupakan proses yang sangat penting ntuk kelanjutan suatu jenis atau bangsa hewan. Dalam bidang peternakan, produktivitas ternak tidak dapat dipisahkan dengan proses reproduksi. Sebagai contoh, untuk menghasilan telur, susu dan ternak muda, haruslah melalui serangkaian proses reproduksi yang dimulai dengan pembentukan sel telur / sel sperma, ovulasi, fertilisasi, pertumbuhan dan perkembangan fetus sampai dengan dilahirkan (partus).
Manajemen perkawinan ternak yang baik sangat penting untuk meningkatkan efisiensi reproduksi termasuk perbaikan keturunannya. Salah satu cara untuk memperbaiki manajemen ternak adalah dengan inseminasi buatan (IB).Dengan teknik IB dapat ditingkatkan perbaikan mutu genetik secara cepat, untuk pencegahan kemajiran ternak, pencegahan penyebaran penyakit.Pada inseminasi buatan hanya pejantan-pejantan yang sudah teruji dan mempunyai genetik yang baik yang dipakai untuk mengawini ternak betina sehingga dapat memperbaiki mutu genetik pada turunannya. Dengan IB tidak terjadi kontak langsung antar ternak sehingga dapat mencegah penyebaran penyakit kelamin menular, juga dengan IB masih memungkinkan pejantan unggul yang mempunyai cedera tubuh dimanfaatkan untuk diambil spermanya untuk mengawini betina.
Teknik lainnya untuk meningkatkan efisiensi reproduksi adalah dengan embrio transfer. Teknik ini biasanya dilakukan secara bersamaan dengan superovulasi. Dengan teknik superovulasi, betina yang berkualitas baik yang dipakai sebagai donor embrio dipacu agar dapat mengovulasikan banyak sel telur, setelah sel-sel telur itu dibuahi dan berkembang menjadi zigot-zigot. Zigot-zigot tersebut ditransfer pada beberapa resipien. Dengan hal ini berarti meningkatkan efisiensi reproduksi pada hewan donor tersebut. Pada periode dekade ini telah berkembang beberapa kemajuan bioteknologi untuk meningkatkan efisiensi reproduksi, meningkatkan mutu genetik turunan dan memperpendek jarak regenerasi, yaitu antara lain dengan pembuatan chimera dan cloning (penjelasan secara detail lihat di internet danjurnal).
Chimera memungkin embrio dari seekor hewan dititipkan pada hewan lain yang berlainan speciesnya. Dengan teknik chimera, maka embrio yang akan dititipkan tersebut telah dimanipulasi sel-selnya sehingga tidak dikenal sebagai embrio asing dan akhirnya akan dapat berkembang sampai lahir tanpa adanya penolakan ( rejection ) dari induk yang dititipi. Teknik ini sangat bermanfaat bagi usaha meningkarkan populasi hewan-hewan yang hampir punah ( endangered species ). Seperti dalam pembuatan chimera, pada pembuatan cloning juga dilakukan manipulasi embrio. Dengan teknik cloning memungkinkan diproduksi hewan dengan karakteristik genetik dan performan yang dikehendaki secara besar-besaran. Akan tetapi teknik chimera dan cloning membutuhkan keahlian yang khusus serta biaya yang tidak sedikit, sehingga masih dalam tahap penelitian di laboratorium dan belum bisa diaplikasikan di dunia peternakan secara luas. Sampai saat ini teknik reproduksi yang sudah diterapkan secara luas adalah inseminasi buatan. Secara terminologinya dapat diartikan bahwa inseminasi buatan merupakan sebuah proses pemasukan semen dari pejantan yang telah diseleksi ke dalam organ reproduksi ternak betina.
Siklus Reproduksi
Reproduksi pada hewan betina merupakan suatu proses yang kompleks dan dapat terganggu pada berbagai stadium sebelum dan sesudah permulaan siklus reproduksi. Hewan betina harus menghasilkan ovum yang hidup dan di ovulasikan pada waktu yang tepat. Ia harus memperlihatkan estrus atau keinginan untuk kawin dekat waktu ovulasi sehingga kemungkinan penyatuan sel kelamin jantan dengan sel telur dan kemungkinan pembuahan lebih tinggi. Ia harus menyediakan lingkungan intra – uterin yang sesuai untuk konseptus sejak pembuahan sampai partus, demikian lingkungan yang baik pula untuk anaknya sejak lahir sampai waktu disapih. Jadi, reproduksi normal melingkupi penyerentakan dan penyesuaian banyak mekanisme fisiologik.
Pubertas (Dewasa Kelamin)
Dapat didefinisikan sebagai umur atau waktu dimana organ – organ reproduksi mulai berfungsi dan perkembang biakan dapat terjadi. Pada hewan jantan, pubertas ditandai oleh kesanggupan berkopulasi dan menghasilkan sperma disamping perubahan – perubahan kelamin skunder lain. Pada hewan betina pubertas dicerminkan oleh terjadinya estrus dan ovulasi. Sebelum pubertas, saluran reproduksi betina dan ovarium perlahan – lahan bertambah ukuran dan tidak menunjukkan aktivitas fungsional. Pertumbuhan yang lambat ini sejajar dengan pertumbuhan berat badan sewaktu hewan berangsur dewasa.
Hormone dan Pubertas
Pertumbuhan dan perkembangan organ – organ kelamin betina sewaktu pubertas dipengaruhi oleh hormone – hormone gonadotropin dan hormone – hormone gonadal. Pelepasan FSH ke adalam aliran darah menjelang pubertas menyebabkan pertumbuhan folikel – folikel pada ovarium. Sewaktu folikel – folikel itu tumbuh dan menjadi matang, berat ovarium eninggi dan estrogen diekskresikan di dalam ovaroium untuk di lepaskan ke dalam aliran darah. Estrogen menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan saluran kelamin betina. Apabila folikel – folikel menjadi matang, ova dilepaskan dan turun ke tuba fallopii.
Bukti – bukti menunjukkan bahwa permulaan pubertas pada hewan betina disebabkan oleh pelepasan tiba – tiba hormone gonadotropin dari kelenjar adenohypophysa ke dalam saluran darah dan bukan di mulainya secara tiba – tiba produksi hormone tersebut. Mekanisme neurohomoral yang menyebabkan pelepasan gonadotropin dari kelenjar adenohypophisa telah diisolir dari hypothalamus. Ransangan – ransangan neural tertentu dapat mempercepat timbulnya pubertaspada beberapa hewan betina. Hal ini mungkin berarti bahwa ransangan – ransangan neural menyebabkan hypothalamus menghasilkan atau melepaskan factor – factor pelepa yang sebaliknya menyebabkan pelepasan gonadotropin ke dalam lairan darah.
Umur dan Berat Badan Pubertas
Terjadinya estrus pertama pada hewan betina muda sangat menyolok karena timbul secara tiba – tiba. Tampak seolah – olah thermostat fisiologik telah disentakkan untuk menimbulkan aktivitas reproduksi. Pubertas, kecuali pada pada hewan – hewan yang bermusim, umumnya terjadi apabila berat dewasa hamper tercapai dan kecepatan pertumbuhan mulai mennurun. Hal ini berarti bahwa timbulnya pubertas mungkin berhubungan melalui beberapa jalan dengan suatu perubahan keseimbangan antara pengeluaran gonadotropin dan hormone pertumbuhan oleh kelenjar adenohypophisa. Umur dan berat hewan sewaktu timbulnya pubertas berbeda – beda menurut species. Karena pengaruh lingkungan, estrus sering terjadi pada umur yang sedemikian rendahnya sehingga apabila terjadi konsepsi maka kelahiran akan berbahaya karena kelahiran.
Spesies Usia
Kuda 10 – 24 bulan
Sapi, bangsa eropah 6 – 18 bln
Sapi, Brahman dan zebu 12 – 30 bln
kerbau 2-3 thn
Domba 6 – 12 bulan
babi 5-8 bulan
Sesudah perkawinan ternak dara tingkatan makanan selama kebuntingan pertama haruslah cukup untuk kelangsungan pertumbuhan dan perkembangannya agar supaya menjelang waktu partus tidak terjadi komplikasi seperti distoksia.
Factor – Factor Yang Memepengaruhi Pubertas
Pubertas di control oleh mekanisme – mekanisme fisiologik tertentu yang melibatkan gonad dan kelenjar adenohypophisa, maka pubertas tidak luput dari pengaruh factor herediter dan lingkungan yang bekerja melalui organ – organ tersebut.
Musim; pemeriksaan ovaria pada babi di rumah potong menunjukkan bahwa musim pemotongan, jadi musim kelahiran, mempunyai pengaruh sangat nyata terhadap pubertas.
Suhu; pengaruh suhu lingkungan yang konstan terhadap timbulnya pubertas pada sapi – sapi dara Brahman ( Zebu ). Pada sapi – sapi dara yang dikandangkan pada suhu 800F ( 28.90C ) pubertas dicapai pada rata – rata umur 398 hari dibandingkan dengan 300 hari pada 500 F (100C). Pada sapi – sapi dara yang ditempatkan dengan kondisi luar, pubertas dicapai pada umur 320 hari. Makanan; makanan yang cukup perlu untuk fungsi endokrin yang normal. Tingkatan makanan tampaknya mempengaruhi sintesa pelepasan hormone dari kelenjar – kelenjar endokrin.
Factor – factor genetic; factor – factor genetic yang mempengaruhi umur pubertas dicerminkan oleh perbedaan antar bangsa, strain, kelompok pejantan dan oleh persilangan dan inbreeding. Pada umumnya, sapi – sapi Brahman dan Zebu mencapai pubertas lebih lambat 6 sampai 12 bulan dari pada sapi – sapi bangsa eropah.
Musim Kawin (Breeding Season)
Hewan – hewan betina beberapa spesies memperlihatkan siklus reproduksi yang terus – menerus sepanjang tahun apabila tidak terjadi kebuntingan. Pada hewan – hewan betina kejadian siklus berahi yang berturut – turut pada betina tidak bunting hanya terbatas pada musim – musim tertentu dalam waktu satu tahun, yang disebut dengan “musim kawin” atau breeding season. Akan tetapi sebelum dan sesudah musim kawin, saluran reproduksi dan ovaria pada betina berada dalam suatu keadaan yang relative tenang atau inaktif; keadaan ini disebut dengan anestrus.
Factor – factor yang mempengaruhi musim kawin:
Lamanya siang hari ( photo periode ) Marshall (1973), mengobservasi bahwa apabila domba – domba betina dipindahkan melewati khatulistiwa dari belahan betina utara ke belahan bumi selatan, domba - domba tersebut segera merubah musim kawinnya sesuai dengan lingkungan yang baru.
Siang hari yang panjang menyebabkan terhentinya kegiatan reproduksi. Gejala – gejala estrus akan timbul kembali apabila malam hari bertambah panjang dan siang hari bertambah pendek. Respons domba terhadap panjang siang hari yang berkurang disebut “pekawin hari pendek” (short days breeders). Sebaliknya unggas berespons terhadap panjang siang hari yang bertambah, dan disebut ”pekawin hari panjang” ( long day breeders ) Lamanya siang hari bukanlah satu –satunya factor yang mempengaruhi periodisitas kegiatan reproduksi. Lama penyinaran secara buatan di musim dingin dan menguranginya selama musim panas, maka musim reproduksi dapat berbalik terjadi pada musim semi dan musim panas.
Suhu. Pengaruh suhu adalah sekunder terhadap pengaruh lamanya siang hari atau lamanya penyinaran. Seleksi alamiah selama periode banyak generasi akan lebih efektif terhadap respons lamanya siang hari daripada respons terhadp perubahan – perubahan suhu. Factor – factor lain. Factor – factor lingkungan tertentu terlibat mempengaruhi musim reproduksi. Kekurangan makanan atau kesehatan yang terganggu dapat mempengaruhi datangnya musim kawin.
Mekanisme hormonal.: Pengendalian reproduksi pada ternak – ternak yang kawin bermusim sebagian besar tergantung pada hypothalamus. Hypothalamus menjalankan pengaruhnya melalui sel – sel saraf yang menyebabkan pengeluaran factor – factor pelepas (releasing faktor) ke dalam saluran darah menuju ke kelenjar adenohypophisa.
Fase – Fase Siklus Berahi
Sekali pubertas telah tercapai dan musim reproduksi telah dimulai estrus terjadi pada hewan – hewan betina tidak bunting menurut suatu ritmik siklus yang khas. Interval antara timbulnya suatu periode berahi ke permulaan periode berahi berikutnya dikenal dengan siklus berahi. Interval – interval ini disertai oleh suatu seri perubahan – perubahan fisiologik didalam suatu saluran kelamin betina.
Walaupun setiap spesies mempunyai cirri – cirri khas dari pola berahinya, namun pada dasarnya adalah sama. Siklus berahi umumnya dibagi atas 4 fase atau periode yaitu proestrus, estrus, metestru, dan diestrus. Beberapa peneliti membaginya atas dua fase, fase folikuler atau estrogenic yang meliputi proestrus dan estrus, dan fase luteal dan progestational yang terdiri dari metestrus dan diestrus.
Proestrus adalah fase sebelum estrus yaitu periode dimana folikel de Graaf bertumbuh dibawah pengaruh FSH dan menghasilkan sejumlah estrodial yang semakin bertambah. System reproduksi memulai persiapan – persiapan untuk melepaskan ovum dari ovarium. Folikel, atau cairan folikel – folikel, tergantung pada spesies, mengembang dan diisi dengan cairan folikuler. Setiap folikel bertumbuh cepat selama 2 atau 3 hari sebelum estrus. Pada fase ini terjadi peningkatan pada pertumbuhan – pertumbuhan sel – sel dan lapisan bercilia pada tuba faloppii, dalam vaskularisasi mucosa arteri, dan dalam tebal dan vaskularisasi epithel vagina, dan kornifikasi terjadi pada beberapa spesies tertentu.
Estrus. Periode yang ditandai dengan keinginan kelamin dan penerimaan pejantan oleh hewan betina. Selama periode ini biasanya hewan betina akan mencari dan menerima pejantan untuk berkopulasi. Folikel de graaf membesar dan menjadi matang. Ovum mengalami perubahan – perubahan kea rah pematangan. Estradiol dari folikel de Graaf yang matang menyebabkan perubahan – perubahan pada saluran reproduksi tubuler yang maksimal pada fase ini.
Matestrus atau postestrus dalah periode segera setelah estrus di mana corpus luteum bertambah cepat dari sel – sel granulose folikel yang telah pecah di bawah pengaruh hormone LH dari adenohypophisa. Matestrus sebgaian besar berada dibawah pengaruh hormone progesterone yang dihasilkan oleh corpus luteum. Progesteron menghambat sekresi FSH oleh adenohypophisa sehingga menghmabat folikel de Graaf yang lain dan mencegah terjadinya estrus.
Diestrus dalah periode terakhir dan terlama siklus berahi pada ternak – ternak mamalia. Corpus luteum menjadi matang dan pengaruh hormone progesterone terhadap saluran reproduksi menjadi nyata.
BERAHI (estrus)
Estrus dan ovulasi sedikit banyaknya diserentakkan pada hewan betina untuk mempertinggi kemungkinan pertemuan ovum dengan spermatozoa dalam proses pembuahan untuk memulai pertumbuhan dan perkembangan individu baru. Sinkronisasi estrus dan ovulasi perlu karena umur ovum sesudah ovlasi dan umur sperma yang sudah disemprotkan ke dalam saluran kelamin betina sangat terbatas untuk beberapa jam.
Gejala – Gejala Berahi
Selama estrus, sapi betina menjadi sangat tidak tenang, kurang nafsu makan, dan kadang – kadang menaiki sapi – sapi betina lain dan akan diam berdiri bila dinaiki. Vulava tersebut akan membengkak. Memerah dan penuh dengan sekresi mucus transparan yang menggantung dari vulva atau terlihat di pangkal ekor.
Lamanya Berahi
Lamanya berahi bervariasi pada tiap – tiap hewan dan anatara individu dalam satu spesies. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh varias- variasi sewaktu estrus, terutama pada sapi dengan periode berahinya yang terpendek di antara semua ternak mamalia.
Berahi selama kebuntingan
Berhentinya estrus sesudah perkawinan merupakan indikasi yang baik bahwa kebuntingan telah terjadi. Akan tetapi dapat juga terjadi pada 3 sampai 5 % sapi – sapi yang bunting selama 3 bulan pertama masa kenuntingan walaupun dapat terjadi dalam bulan – bulan yang lebih tua.
Dalam bukunya Toelihere yang berjudul Fisiologi Reproduksi Pada Ternak, menyatakan bahwa hormon progesteron dipersiapkan uterus untuk implantasi blatosis, memelihara dan mengatur organ-organ. Corpus luteum pada domba merupakan sumber progesteron utama, sehingga kadar hormon progesteron sangat erat kaitannya dengan tingkat ovulasi. Semakin tinggi ovulasi, maka kadar hormon progesteron akan meningkat, terutama berkaitan dengan pemeliharaan kebuntingan. Perpanjangan saluran kelenjar ambing dibawah pengaruh hormon estradiol. Percabangan pada saluran kelenjar ambing dan pembentukan lobul alveolar terjadi setelah saluran kelenjar ambing selesai, dipengaruhi hormon progesteron. Hormon progesteron dan estradiol bervariasi sesuai dengan usai kebuntingan, terutama dengan laju ovulasi (jumlah corpus luteum), ataupun jumlah anak yang dikandung Pertumbuhan dan perkembangan kelenjar ambing yang optimal terjadi selama kebuntingan, serta paling pesat terjadi setelah periode plasentasi, sedangkan selama periode laktasi pertumbuhan dan perkembangan kelenjar ambing boleh dikatakan sudah berhenti. Kondisi tersebut disebabkan oleh hormon-hormon yang merangsang pertumbuhan dan perkembangan kelenjar ambing sudah menurun. Peningkatan hormon mammogenik selama kebuntingan berhubungan erat dengan jumlah anak yang dilahirkan dan peningkatan produksi susu yang dihasilkan selama laktasi. Banyak jumlah anak yang dilahirkan, semakin tinggi produksi susu yang dihasilkan. Lebih lanjut peningkatan jumlah corpus luteum dan jumlah anak ternyata meningkatkan sekresi progesteron, estradiol dan laktogen plasma. Pertumbuhan dan perkembangan kelenjar susu 98 persen dan merupakan prosentase tertinggi terjadi selama kebuntingan, sedangkan pada periode laktasi hanya + dua persen saja. Kekurangan pakan yang serius dan berlangsung satu sampai tiga minggu selama bulan pertama kebuntingan dapat mengakibatkan kematian embrio (15 persen).
Interval Antara Partus Dan Estrus Pertama
Sesudah partus, hewan betina harus menghasilkan susu untuk anaknya dan menyiapkan uterus, ovarium dan organ – organ kelamin lainnya dan system endokrin untuk memulai lagi suatu siklus normal dan untuk kebuntingan baru. Uterus kembali pada ukuran dan posisi semula (dikenal dengan involusi) dan mempersiapkan diri untuk kebuntingan berikutnya :
1. Sapi. Waktu yang diperlukan untuk involusi antara 30 – 50 hari.
2. Kuda involusi uteri 20 – 40 hri
3. Babi. Estrus pertama sesuadah partus pada babi terjadi pada waktu 3 ampai 5 hari tetapi biasanya tidak disertai ovulasi. Oleh karena itu apabila betina dikawinkan pada saat tersebut tidak akan terjadi kebuntingan.
4. Domba. Lama siklusnya pda domba – domba lokal bervariasi antara 11 sampai dengan 19 hari, rata – rata 16.7 hari.
Rangkaian Kelamin dan Penentuan Jenis Kelamin
Pada pola pewarisan sifat yang diatur oleh gen-gen berangkai atau gen-gen yang terletak pada satu kromosom. Keberadaan gen berangkai pada suatu spesies organisme, yang meliputi urutan dan jaraknya satu sama lain, menghasilkan peta kromosom untuk spesies tersebut, misalnya peta kromosom pada lalat Drosophila melanogaster yang terdiri atas empat kelompok gen berangkai (Gambar).
Salah satu dari keempat kelompok gen berangkai atau keempat pasang kromosom pada D. melanogaster tersebut, dalam hal ini kromosom nomor 1, disebut sebagai kromosom kelamin. Pemberian nama ini karena strukturnya pada individu jantan dan individu betina memperlihatkan perbedaan sehingga dapat digunakan untuk membedakan jenis kelamin individu. Ternyata banyak sekali spesies organisme lainnya, terutama hewan dan juga manusia, mempunyai kromosom kelamin.
Gen-gen yang terletak pada kromosom kelamin dinamakan gen rangkai kelamin (sex-linked genes) sementara fenomena yang melibatkan pewarisan gen-gen ini disebut peristiwa rangkai kelamin (linkage). Adapun gen berangkai yang dibicarakan adalah gen-gen yang terletak pada kromosom selain kromosom kelamin, yaitu kromosom yang pada individu jantan dan betina sama strukturnya sehingga tidak dapat digunakan untuk membedakan jenis kelamin. Kromosom semacam ini dinamakan autosom.
Seperti halnya gen berangkai (autosomal), gen-gen rangkai kelamin tidak mengalami segregasi dan penggabungan secara acak di dalam gamet-gamet yang terbentuk. Akibatnya, individu-individu yang dihasilkan melalui kombinasi gamet tersebut memperlihatkan nisbah fenotipe dan genotipe yang menyimpang dari hukum Mendel. Selain itu, jika pada percobaan Mendel perkawinan resiprok (genotipe tetua jantan dan betina dipertukarkan) menghasilkan keturunan yang sama, tidak demikian halnya untuk sifat-sifat yang diatur oleh gen rangkai kelamin.
Gen rangkai kelamin dapat dikelompok-kelompokkan berdasarkan atas macam kromosom kelamin tempatnya berada. Oleh karena kromosom kelamin pada umumnya dapat dibedakan menjadi kromosom X dan Y, maka gen rangkai kelamin dapat menjadi gen rangkai X (X-linked genes) dan gen rangkai Y (Y-linked genes). Di samping itu, ada pula beberapa gen yang terletak pada kromosom X tetapi memiliki pasangan pada kromosom Y. Gen semacam ini dinamakan gen rangkai kelamin tak sempurna (incompletely sex-linked genes). Pada bab ini akan dijelaskan cara pewarisan macam-macam gen rangkai kelamin tersebut serta beberapa sistem penentuan jenis kelamin pada berbagai spesies organisme.
Pewarisan Rangkai X
Percobaan yang pertama kali mengungkapkan adanya peristiwa rangkai kelamin dilakukan oleh T.H Morgan pada tahun 1910. Dia menyilangkan lalat D. melanogaster jantan bermata putih dengan betina bermata merah. Lalat bermata merah lazim dianggap sebagai lalat normal atau tipe alami (wild type), sedang gen pengatur tipe alami, misalnya pengatur warna mata merah ini, dapat dilambangkan dengan tanda +. Biasanya, meskipun tidak selalu, gen tipe alami bersifat dominan terhadap alel mutannya.
Hasil persilangan Morgan tersebut, khususnya pada generasi F1, ternyata berbeda jika tetua jantan yang digunakan adalah tipe alami (bermata merah) dan tetua betinanya bermata putih. Dengan perkataan lain, perkawinan resiprok menghasilkan keturunan yang berbeda. Persilangan resiprok dengan hasil yang berbeda ini memberikan petunjuk bahwa pewarisan warna mata pada Drosophila ada hubungannya dengan jenis kelamin, dan ternyata kemudian memang diketahui bahwa gen yang mengatur warna mata pada Drosophila terletak pada kromosom kelamin, dalam hal ini kromosom X. Oleh karena itu, gen pengatur warna mata ini dikatakan sebagai gen rangkai X.
Secara skema pewarisan warna mata pada Drosophila dapat dilihat pada Gambar 6.1. Kromosom X dan Y masimg-masing lazim dilambangkan dengan tanda dan .
P : + + w P : w w +
x x
betina normal jantan mata putih betina mata putih jantan normal
F1 : + w + F1: + w w
betina normal jantan normal betina normal jantan mata putih
a) b)
Gambar 1. Diagram persilangan rangkai X pada Drosophila
Jika kita perhatikan Gambar diatas, akan nampak bahwa lalat F1 betina mempunyai mata seperti tetua jantannya, yaitu normal/merah. Sebaliknya, lalat F1 jantan warna matanya seperti tetua betinanya, yaitu putih. Pewarisan sifat semacam ini disebut sebagai criss cross inheritance.
Pada Drosophila, dan juga beberapa spesies organisme lainnya, individu betina membawa dua buah kromosom X, yang dengan sendirinya homolog, sehingga gamet-gamet yang dihasilkannya akan mempunyai susunan gen yang sama. Oleh karena itu, individu betina ini dikatakan bersifat homogametik. Sebaliknya, individu jantan yang hanya membawa sebuah kromosom X akan menghasilkan dua macam gamet yang berbeda, yaitu gamet yang membawa kromosom X dan gamet yang membawa kromosom Y. Individu jantan ini dikatakan bersifat heterogametik.
Istilah hemizigot digunakan untuk menyebutkan genotipe individu dengan sebuah kromosom X. Individu dengan gen dominan yang terdapat pada satu-satunya kromosom X dikatakan hemizigot dominan. Sebaliknya, jika gen tersebut resesif, individu yang memilikinya disebut hemizigot resesif.
Rangkai X pada manusia
Salah satu contoh gen rangkai X pada manusia adalah gen resesif yang menyebabkan penyakit hemofilia, yaitu gangguan dalam proses pembekuan darah. Sebenarnya, kasus hemofilia telah dijumpai sejak lama di negara-negara Arab ketika beberapa anak laki-laki meninggal akibat perdarahan hebat setelah dikhitan. Namun, waktu itu kematian akibat perdarahan ini hanya dianggap sebagai takdir semata.
Hemofilia baru menjadi terkenal dan dipelajari pola pewarisannya setelah beberapa anggota keluarga Kerajaan Inggris mengalaminya. Awalnya, salah seorang di antara putra Ratu Victoria menderita hemofilia sementara dua di antara putrinya karier atau heterozigot. Dari kedua putri yang heterozigot ini lahir tiga cucu laki-laki yang menderita hemofilia dan empat cucu wanita yang heterozigot. Melalui dua dari keempat cucu yang heterozigot inilah penyakit hemofilia tersebar di kalangan keluarga Kerajaan Rusia dan Spanyol. Sementara itu, anggota keluarga Kerajaan Inggris saat ini yang merupakan keturunan putra/putri normal Ratu Victoria bebas dari penyakit hemofilia.
Sistem nisbah X/A
C.B. Bridge melakukan serangkaian penelitian mengenai jenis kelamin pada lalat Drosophila. Dia berhasil menyimpulkan bahwa sistem penentuan jenis kelamin pada organisme tersebut berkaitan dengan nisbah banyaknya kromosom X terhadap banyaknya autosom, dan tidak ada hubungannya dengan kromosom Y. Dalam hal ini kromosom Y hanya berperan mengatur fertilitas jantan. Secara ringkas penentuan jenis kelamin dengan sistem X/A pada lalat Drosophila dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Penentuan jenis kelamin pada lalat Drosophila
Σ kromosom X Σ autosom nibah X/A jenis kelamin
1 2 0,5 jantan
2 2 1 betina
3 2 1,5 metabetina
4 3 1,33 metabetina
4 4 1 betina 4n
3 3 1 betina 3n
3 4 0,75 interseks
2 3 0,67 interseks
2 4 0,5 jantan
1 3 0,33 metajantan
Jika kita perhatikan kolom pertama pada Tabel.1 akan terlihat bahwa ada beberapa individu yang jumlah kromosom X-nya lebih dari dua buah, yakni individu dengan jenis kelamin metabetina, betina triploid dan tetraploid, serta interseks. Adanya kromosom X yang didapatkan melebihi jumlah kromosom X pada individu normal (diploid) ini disebabkan oleh terjadinya peristiwa yang dinamakan gagal pisah (non disjunction), yaitu gagal berpisahnya kedua kromosom X pada waktu pembelahan meiosis.
Pada Drosophila terjadinya gagal pisah dapat menyebabkan terbentuknya beberapa individu abnormal seperti nampak pada Gambar 3.
P : AAXX x AAXY
gagal pisah
gamet : AXX AO AX AY
F1 : AAXXX AAXXY AAXO AAOY
betina super betina jantan steril letal
Gambar 3. Diagram munculnya beberapa individu abnormal pada
Drosophila akibat peristiwa gagal pisah
Di samping kelainan-kelainan tersebut pernah pula dilaporkan adanya lalat Drosophila yang sebagian tubuhnya memperlihatkan sifat-sifat sebagai jenis kelamin jantan sementara sebagian lainnya betina. Lalat ini dikatakan mengalami mozaik seksual atau biasa disebut dengan istilah ginandromorfi. Penyebabnya adalah ketidakteraturan distribusi kromosom X pada masa-masa awal pembelahan mitosis zigot. Dalam hal ini ada sel yang menerima dua kromosom X tetapi ada pula yang hanya menerima satu kromosom X.
Kromatin Kelamin
Pada sel somatis wanita terdapat sebuah kromatin kelamin sementara sel somatis pria tidak memilikinya. Selanjutnya diketahui bahwa banyaknya kromatin kelamin ternyata sama dengan banyaknya kromosom X dikurangi satu. Jadi, wanita normal mempunyai sebuah kromatin kelamin karena kromosom X-nya ada dua. Demikian pula, pria normal tidak mempunyai kromatin kelamin karena kromosom X-nya hanya satu.
Dewasa ini keberadaan kromatin kelamin sering kali digunakan untuk menentukan jenis kelamin serta mendiagnosis berbagai kelainan kromosom kelamin pada janin melalui pengambilan cairan amnion embrio (amniosentesis). Pria dengan kelainan kromosom kelamin, misalnya penderita sindrom Klinefelter (XXY), mempunyai sebuah kromatin kelamin yang seharusnya tidak dimiliki oleh seorang pria normal. Sebaliknya, wanita penderita sindrom Turner (XO) tidak mempunyai kromatin kelamin yang seharusnya ada pada wanita normal.
Mary F. Lyon, seorang ahli genetika dari Inggris mengajukan hipotesis bahwa kromatin kelamin merupakan kromosom X yang mengalami kondensasi atau heterokromatinisasi sehingga secara genetik menjadi inaktif. Hipotesis ini dilandasi hasil pengamatannya atas ekspresi gen rangkai X yang mengatur warna bulu pada mencit. Individu betina heterozigot memperlihatkan fenotipe mozaik yang jelas berbeda dengan ekspresi gen semidominan (warna antara yang seragam). Hal ini menunjukkan bahwa hanya ada satu kromosom X yang aktif di antara kedua kromosom X pada individu betina. Kromosom X yang aktif pada suatu sel mungkin membawa gen dominan sementara pada sel yang lain mungkin justru membawa gen resesif.
Hipotesis Lyon juga menjelaskan adanya mekanisme kompensasi dosis pada mamalia. Mekanisme kompensasi dosis diusulkan karena adanya fenomena bahwa suatu gen rangkai X akan mempunyai dosis efektif yang sama pada kedua jenis kelamin. Dengan perkataan lain, gen rangkai X pada individu homozigot akan diekspesikan sama kuat dengan gen rangkai X pada individu hemizigot.
Hormon dan Diferensiasi Kelamin
Dari penjelasan mengenai berbagai sistem penentuan jenis kelamin organisme diketahui bahwa faktor genetis memegang peranan utama dalam ekspresi sifat kelamin primer. Selanjutnya, sistem hormon akan mengatur kondisi fisiologi dalam tubuh individu sehingga mempengaruhi perkembangan sifat kelamin sekunder.
Pada hewan tingkat tinggi dan manusia hormon kelamin disintesis oleh ovarium, testes, dan kelenjar adrenalin. Ovarium dan testes masing-masing mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai penghasil sel kelamin (gamet) dan sebagai penghasil hormon kelamin. Sementara itu, kelenjar adrenalin menghasilkan steroid yang secara kimia berhubungan erat dengan gonad.
Gen terpengaruh kelamin
Gen terpengaruh kelamin (sex influenced genes) ialah gen yang memperlihatkan perbedaan ekspresi antara individu jantan dan betina akibat pengaruh hormon kelamin. Sebagai contoh, gen autosomal H yang mengatur pembentukan tanduk pada domba akan bersifat dominan pada individu jantan tetapi resesif pada individu betina. Sebaliknya, alelnya h, bersifat dominan pada domba betina tetapi resesif pada domba jantan. Oleh karena itu, untuk dapat bertanduk domba betina harus mempunyai dua gen H (homozigot) sementara domba jantan cukup dengan satu gen H (heterozigot).
Tabel 2. Ekspresi gen terpengaruh kelamin pada domba
Genotipe Domba jantan Domba betina
HH bertanduk bertanduk
Hh bertanduk tidak bertanduk
hh tidak bertanduk tidak bertanduk
Contoh lain gen terpengaruh kelamin adalah gen autosomal B yang mengatur kebotakan pada manusia. Gen B dominan pada pria tetapi resesif pada wanita. Sebaliknya, gen b dominan pada wanita tetapi resesif pada pria. Akibatnya, pria heterozigot akan mengalami kebotakan, sedang wanita heterozigot akan normal. Untuk dapat mengalami kebotakan seorang wanita harus mempunyai gen B dalam keadaan homozigot.
Gen terbatasi kelamin
Selain mempengaruhi perbedaan ekspresi gen di antara jenis kelamin, hormon kelamin juga dapat membatasi ekspresi gen pada salah satu jenis kelamin. Gen yang hanya dapat diekspresikan pada salah satu jenis kelamin dinamakan gen terbatasi kelamin (sex limited genes). Contoh gen semacam ini adalah gen yang mengatur produksi susu pada sapi perah, yang dengan sendirinya hanya dapat diekspresikan pada individu betina. Namun, individu jantan dengan genotipe tertentu sebenarnya juga mempunyai potensi untuk menghasilkan keturunan dengan produksi susu yang tinggi sehingga keberadaannya sangat diperlukan dalam upaya pemuliaan ternak tersebut.
Gen dan Kromosom
Letak Kromosom
Seperti telah dijelaskan dalam pembahasan tentang perkembangbiakan, semua keturunan hasil perkembangbiakan generatif mempunyai sifat yang bervariasi yang merupakan hasil dari campuran sifat kedua induknya. Misalnya, seorang ayah berambut lurus menikah dengan seorang ibu berambut keriting. Anak-anak mereka mungkin ada yang berambut lurus, berambut keriting, atau berambut ikal (antara lurus dan keriting). Rambut lurus dan rambut keriting disebut sifat beda.
Contoh sifat beda pada tumbuhan adalah batang tinggi, batang pendek, warna bunga merah, warna bunga putih, rasa buah manis, rasa buah asam, biji bulat, dan biji kisut (keriput). Sekarang sudah diketahui bahwa sifat beda ditentukan dan diwariskan oleh gen penentu sifat yang terletak di dalam kromosom. Istilah kromosom pertama kali diperkenalkan oleh W. Waldeyer. Kromosom berasal dari dua kata, yaitu chroma (warna) dan soma (badan). Istilah ini muncul karena bagian ini akan jelas terlihat di bawah mikroskop apabila diberi zat warna. Kromosom terletak di dalam nukleus (inti sel). Inti sel tubuh dan inti sel kelamin suatu organisme mempunyai jumlah yang berbeda. Kromosom yang terletak di dalam inti sel tubuh bersifat haploid (2n), sedangkan yang terletak di dalam inti sel kelamin (gamet) bersifat haploid (n). Jumlah kromosom pada sel tubuh manusia sebanyak 46 (23 pasang), sedangkan pada sel kelaminnya (sperma atau ovum) sebanyak 23. dalam setiap kromosom manusia terdapat ribuan gen.
macam-macam kromosom
Berdasarkan fungsinya, kromosom dibedakan menjadi kromosom tubuh dan kromosom kelamin: Kromosom tubuh atau autosom adalah kromosom yang tidak menentukan jenis kelamin, berjumlah 2n-2. pada manusia jumlah autosom pada setiap sel tubuh sebanyak 44 (22 pasang). Kromosom kelamin (seks) atau gonosom adalah kromosom yang menentukan jenis kelamin, berjumlah sepasang. Kromosom kelamin pada wanita XX, sedangkan laki-laki XY.
Istilah – Istilah dalam Penurunan Kromosom.
Parental (P), yaitu induk (jantan dan betina) yang mengadakan perkawinan/persilangan. Parental disebut juga orang tua/tetua.
Filial (F), yaitu individu hasil persilangan, disebut juga keturunan/zuriat. Keturuanan pertama diberi simbol F1, keturunan kedua diberi simbol F2, dst.
Gen dominan, yaitu gen yang mampu menutupi sifat gen lain yang sealel.
Gen resesif, yaitu gen yang ditutupi oleh sifat gen lain yang sealel.
Gen intermediat/kodominan, yaitu gen yang tidak saling mengalahkan atau mempunyai pengaruh yang sama kuat.
Alel, yaitu gen-gen yang terletak pada kromosom homolog.
Fenotipe, yaitu sifat-sitat yang tampak dari luar, dapat dicium, dapat dirasakan, misalnya rambut lurus, batang tinggi, bunga merah. bau harum, dan rasa manis.
Fenotipe merupakan perpaduan antara faktor genotipe dan faktor lingkungan.
Genotipe, yaitu sitat yang tidak tampak dari luar dan disimbolkan dengan huruf awal sifat-sifat yang diwakilinya. Sifat dominan disimbolkan dengan huruf besar. sedang sifat resesif disimbolkan dengan huruf kecil. Misalnya, batang tinggi dominan terhadap batang pendek. Gen batang tinggidisimbolkan dengan huruf T, sedangkan batang pendek djsimbolkan dengan huruf t. Sifat pada genotip disimbolkan dengan huruf yang ditulis rangkap. misalnya TT, Tt, atau tt.
Heterozigot, yaitu pasangan gen yang mempunyai alel yang berbeda. misalnya Aa atau Mm.
Hibrid, yaitu hasil persilangan atau hasil perkawinan antara dua individu yang mempunyai sifat beda. Persilangan dengan satu sitat beda disebut persilangan monohibrid, persilangan dengan dua sifat beda disebut persilangan dihibrid. persilangan dengan tiga silat beda disebut persilangan trihibrid, dan seterusnya.
KESIMPULAN
Reproduksi baru dapat berlangsung setelah hewan mencapai masa pubertas atau dewasa kelamin, dan hal ini diatur oleh kelenjar-kelenjar endokrin dan hormon yang dihasilkan dalam tubuh hewan.
Hewan betina harus menghasilkan ovum yang hidup dan di ovulasikan pada waktu yang tepat. Ia harus memperlihatkan estrus atau keinginan untuk kawin dekat waktu ovulasi sehingga kemungkinan penyatuan sel kelamin jantan dengan sel telur dan kemungkinan pembuahan lebih tinggi.
reproduksi normal melingkupi penyerentakan dan penyesuaian banyak mekanisme fisiologik.
kromosom kelamin dinamakan gen rangkai kelamin (sex-linked genes) sementara fenomena yang melibatkan pewarisan gen-gen ini disebut peristiwa rangkai kelamin (linkage). Adapun gen berangkai yang dibicarakan adalah gen-gen yang terletak pada kromosom selain kromosom kelamin, yaitu kromosom yang pada individu jantan dan betina sama strukturnya sehingga tidak dapat digunakan untuk membedakan jenis kelamin. Kromosom semacam ini dinamakan autosom.
DAFTAR PUSTAKA
Udiati Umi. 2007. Menyerentakkan Berahi Domba Dan Kambing dengan Spons
Progesteron. Warta Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Vol.29,No.,3
Usman Budi. 2006. Buku Ajar Dasar Ternak Perah, Departemen Peternakan Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
Toelihere R. Mozes.1985.Fisiologi Reproduksi Pada Ternak, Penerbit Angkasa Bandung,
Toelihere R. Mozes.1985. Inseminasi Buatan Pada Ternak, Penerbit Angkasa Bandung,
Pengertian Reproduksi
Reproduksi atau perkembangbiakan merupakan bagian dari ilmu faal
( fisiologi ). Reproduksi secara fisiologis tidak vital bagi kehidupan individual dan meskipun siklus reproduksi suatu hewan berhenti, hewan tersebut masih dapat bertahan hidup, sebagai contoh hewan yang diambil organ reproduksinya ( testes atau ovarium ) hewan tersebut tidak mati. Pada umumnya reproduksi baru dapat berlangsung setelah hewan mencapai masa pubertas atau dewasa kelamin, dan hal ini diatur oleh kelenjar-kelenjar endokrin dan hormon yang dihasilkan dalam tubuh hewan. Hewan tingkat tinggi, termasuk ternak, bereproduksi secara seksual, dan proses reproduksinya meliputi beberapa tingkatan fisiologik yang meliputi fungsi-fungsi yang sangat komplek dan terintegrasi antara proses yang satu dengan yang lainnya. Tingkatan-tingkatan fisiologik tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pembentukan sel-sel kelamin ( gamet )
2. Pelepasan sel-sel gamet yang telah berdiferensiasi secara fungsional
3. Perkawinan untuk mempertemukan gamet jantan dan gamet betina
4. Fertilisasi, fusi antara kedua pronuclei
5. Pertumbuhan, diferensiasi dan perkembangan zigote sampai kelahiran normal
1.1 Peranan Proses Reproduksi Dalam Kehidupan Makhluk Hidup
Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa reproduksi secara fisiologik tidak vital bagi kehidupan makhluk hidup, tetapi reproduksi merupakan proses yang sangat penting ntuk kelanjutan suatu jenis atau bangsa hewan. Dalam bidang peternakan, produktivitas ternak tidak dapat dipisahkan dengan proses reproduksi. Sebagai contoh, untuk menghasilan telur, susu dan ternak muda, haruslah melalui serangkaian proses reproduksi yang dimulai dengan pembentukan sel telur / sel sperma, ovulasi, fertilisasi, pertumbuhan dan perkembangan fetus sampai dengan dilahirkan (partus).
Manajemen perkawinan ternak yang baik sangat penting untuk meningkatkan efisiensi reproduksi termasuk perbaikan keturunannya. Salah satu cara untuk memperbaiki manajemen ternak adalah dengan inseminasi buatan (IB).Dengan teknik IB dapat ditingkatkan perbaikan mutu genetik secara cepat, untuk pencegahan kemajiran ternak, pencegahan penyebaran penyakit.Pada inseminasi buatan hanya pejantan-pejantan yang sudah teruji dan mempunyai genetik yang baik yang dipakai untuk mengawini ternak betina sehingga dapat memperbaiki mutu genetik pada turunannya. Dengan IB tidak terjadi kontak langsung antar ternak sehingga dapat mencegah penyebaran penyakit kelamin menular, juga dengan IB masih memungkinkan pejantan unggul yang mempunyai cedera tubuh dimanfaatkan untuk diambil spermanya untuk mengawini betina.
Teknik lainnya untuk meningkatkan efisiensi reproduksi adalah dengan embrio transfer. Teknik ini biasanya dilakukan secara bersamaan dengan superovulasi. Dengan teknik superovulasi, betina yang berkualitas baik yang dipakai sebagai donor embrio dipacu agar dapat mengovulasikan banyak sel telur, setelah sel-sel telur itu dibuahi dan berkembang menjadi zigot-zigot. Zigot-zigot tersebut ditransfer pada beberapa resipien. Dengan hal ini berarti meningkatkan efisiensi reproduksi pada hewan donor tersebut. Pada periode dekade ini telah berkembang beberapa kemajuan bioteknologi untuk meningkatkan efisiensi reproduksi, meningkatkan mutu genetik turunan dan memperpendek jarak regenerasi, yaitu antara lain dengan pembuatan chimera dan cloning (penjelasan secara detail lihat di internet danjurnal).
Chimera memungkin embrio dari seekor hewan dititipkan pada hewan lain yang berlainan speciesnya. Dengan teknik chimera, maka embrio yang akan dititipkan tersebut telah dimanipulasi sel-selnya sehingga tidak dikenal sebagai embrio asing dan akhirnya akan dapat berkembang sampai lahir tanpa adanya penolakan ( rejection ) dari induk yang dititipi. Teknik ini sangat bermanfaat bagi usaha meningkarkan populasi hewan-hewan yang hampir punah ( endangered species ). Seperti dalam pembuatan chimera, pada pembuatan cloning juga dilakukan manipulasi embrio. Dengan teknik cloning memungkinkan diproduksi hewan dengan karakteristik genetik dan performan yang dikehendaki secara besar-besaran. Akan tetapi teknik chimera dan cloning membutuhkan keahlian yang khusus serta biaya yang tidak sedikit, sehingga masih dalam tahap penelitian di laboratorium dan belum bisa diaplikasikan di dunia peternakan secara luas. Sampai saat ini teknik reproduksi yang sudah diterapkan secara luas adalah inseminasi buatan. Secara terminologinya dapat diartikan bahwa inseminasi buatan merupakan sebuah proses pemasukan semen dari pejantan yang telah diseleksi ke dalam organ reproduksi ternak betina.
Siklus Reproduksi
Reproduksi pada hewan betina merupakan suatu proses yang kompleks dan dapat terganggu pada berbagai stadium sebelum dan sesudah permulaan siklus reproduksi. Hewan betina harus menghasilkan ovum yang hidup dan di ovulasikan pada waktu yang tepat. Ia harus memperlihatkan estrus atau keinginan untuk kawin dekat waktu ovulasi sehingga kemungkinan penyatuan sel kelamin jantan dengan sel telur dan kemungkinan pembuahan lebih tinggi. Ia harus menyediakan lingkungan intra – uterin yang sesuai untuk konseptus sejak pembuahan sampai partus, demikian lingkungan yang baik pula untuk anaknya sejak lahir sampai waktu disapih. Jadi, reproduksi normal melingkupi penyerentakan dan penyesuaian banyak mekanisme fisiologik.
Pubertas (Dewasa Kelamin)
Dapat didefinisikan sebagai umur atau waktu dimana organ – organ reproduksi mulai berfungsi dan perkembang biakan dapat terjadi. Pada hewan jantan, pubertas ditandai oleh kesanggupan berkopulasi dan menghasilkan sperma disamping perubahan – perubahan kelamin skunder lain. Pada hewan betina pubertas dicerminkan oleh terjadinya estrus dan ovulasi. Sebelum pubertas, saluran reproduksi betina dan ovarium perlahan – lahan bertambah ukuran dan tidak menunjukkan aktivitas fungsional. Pertumbuhan yang lambat ini sejajar dengan pertumbuhan berat badan sewaktu hewan berangsur dewasa.
Hormone dan Pubertas
Pertumbuhan dan perkembangan organ – organ kelamin betina sewaktu pubertas dipengaruhi oleh hormone – hormone gonadotropin dan hormone – hormone gonadal. Pelepasan FSH ke adalam aliran darah menjelang pubertas menyebabkan pertumbuhan folikel – folikel pada ovarium. Sewaktu folikel – folikel itu tumbuh dan menjadi matang, berat ovarium eninggi dan estrogen diekskresikan di dalam ovaroium untuk di lepaskan ke dalam aliran darah. Estrogen menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan saluran kelamin betina. Apabila folikel – folikel menjadi matang, ova dilepaskan dan turun ke tuba fallopii.
Bukti – bukti menunjukkan bahwa permulaan pubertas pada hewan betina disebabkan oleh pelepasan tiba – tiba hormone gonadotropin dari kelenjar adenohypophysa ke dalam saluran darah dan bukan di mulainya secara tiba – tiba produksi hormone tersebut. Mekanisme neurohomoral yang menyebabkan pelepasan gonadotropin dari kelenjar adenohypophisa telah diisolir dari hypothalamus. Ransangan – ransangan neural tertentu dapat mempercepat timbulnya pubertaspada beberapa hewan betina. Hal ini mungkin berarti bahwa ransangan – ransangan neural menyebabkan hypothalamus menghasilkan atau melepaskan factor – factor pelepa yang sebaliknya menyebabkan pelepasan gonadotropin ke dalam lairan darah.
Umur dan Berat Badan Pubertas
Terjadinya estrus pertama pada hewan betina muda sangat menyolok karena timbul secara tiba – tiba. Tampak seolah – olah thermostat fisiologik telah disentakkan untuk menimbulkan aktivitas reproduksi. Pubertas, kecuali pada pada hewan – hewan yang bermusim, umumnya terjadi apabila berat dewasa hamper tercapai dan kecepatan pertumbuhan mulai mennurun. Hal ini berarti bahwa timbulnya pubertas mungkin berhubungan melalui beberapa jalan dengan suatu perubahan keseimbangan antara pengeluaran gonadotropin dan hormone pertumbuhan oleh kelenjar adenohypophisa. Umur dan berat hewan sewaktu timbulnya pubertas berbeda – beda menurut species. Karena pengaruh lingkungan, estrus sering terjadi pada umur yang sedemikian rendahnya sehingga apabila terjadi konsepsi maka kelahiran akan berbahaya karena kelahiran.
Spesies Usia
Kuda 10 – 24 bulan
Sapi, bangsa eropah 6 – 18 bln
Sapi, Brahman dan zebu 12 – 30 bln
kerbau 2-3 thn
Domba 6 – 12 bulan
babi 5-8 bulan
Sesudah perkawinan ternak dara tingkatan makanan selama kebuntingan pertama haruslah cukup untuk kelangsungan pertumbuhan dan perkembangannya agar supaya menjelang waktu partus tidak terjadi komplikasi seperti distoksia.
Factor – Factor Yang Memepengaruhi Pubertas
Pubertas di control oleh mekanisme – mekanisme fisiologik tertentu yang melibatkan gonad dan kelenjar adenohypophisa, maka pubertas tidak luput dari pengaruh factor herediter dan lingkungan yang bekerja melalui organ – organ tersebut.
Musim; pemeriksaan ovaria pada babi di rumah potong menunjukkan bahwa musim pemotongan, jadi musim kelahiran, mempunyai pengaruh sangat nyata terhadap pubertas.
Suhu; pengaruh suhu lingkungan yang konstan terhadap timbulnya pubertas pada sapi – sapi dara Brahman ( Zebu ). Pada sapi – sapi dara yang dikandangkan pada suhu 800F ( 28.90C ) pubertas dicapai pada rata – rata umur 398 hari dibandingkan dengan 300 hari pada 500 F (100C). Pada sapi – sapi dara yang ditempatkan dengan kondisi luar, pubertas dicapai pada umur 320 hari. Makanan; makanan yang cukup perlu untuk fungsi endokrin yang normal. Tingkatan makanan tampaknya mempengaruhi sintesa pelepasan hormone dari kelenjar – kelenjar endokrin.
Factor – factor genetic; factor – factor genetic yang mempengaruhi umur pubertas dicerminkan oleh perbedaan antar bangsa, strain, kelompok pejantan dan oleh persilangan dan inbreeding. Pada umumnya, sapi – sapi Brahman dan Zebu mencapai pubertas lebih lambat 6 sampai 12 bulan dari pada sapi – sapi bangsa eropah.
Musim Kawin (Breeding Season)
Hewan – hewan betina beberapa spesies memperlihatkan siklus reproduksi yang terus – menerus sepanjang tahun apabila tidak terjadi kebuntingan. Pada hewan – hewan betina kejadian siklus berahi yang berturut – turut pada betina tidak bunting hanya terbatas pada musim – musim tertentu dalam waktu satu tahun, yang disebut dengan “musim kawin” atau breeding season. Akan tetapi sebelum dan sesudah musim kawin, saluran reproduksi dan ovaria pada betina berada dalam suatu keadaan yang relative tenang atau inaktif; keadaan ini disebut dengan anestrus.
Factor – factor yang mempengaruhi musim kawin:
Lamanya siang hari ( photo periode ) Marshall (1973), mengobservasi bahwa apabila domba – domba betina dipindahkan melewati khatulistiwa dari belahan betina utara ke belahan bumi selatan, domba - domba tersebut segera merubah musim kawinnya sesuai dengan lingkungan yang baru.
Siang hari yang panjang menyebabkan terhentinya kegiatan reproduksi. Gejala – gejala estrus akan timbul kembali apabila malam hari bertambah panjang dan siang hari bertambah pendek. Respons domba terhadap panjang siang hari yang berkurang disebut “pekawin hari pendek” (short days breeders). Sebaliknya unggas berespons terhadap panjang siang hari yang bertambah, dan disebut ”pekawin hari panjang” ( long day breeders ) Lamanya siang hari bukanlah satu –satunya factor yang mempengaruhi periodisitas kegiatan reproduksi. Lama penyinaran secara buatan di musim dingin dan menguranginya selama musim panas, maka musim reproduksi dapat berbalik terjadi pada musim semi dan musim panas.
Suhu. Pengaruh suhu adalah sekunder terhadap pengaruh lamanya siang hari atau lamanya penyinaran. Seleksi alamiah selama periode banyak generasi akan lebih efektif terhadap respons lamanya siang hari daripada respons terhadp perubahan – perubahan suhu. Factor – factor lain. Factor – factor lingkungan tertentu terlibat mempengaruhi musim reproduksi. Kekurangan makanan atau kesehatan yang terganggu dapat mempengaruhi datangnya musim kawin.
Mekanisme hormonal.: Pengendalian reproduksi pada ternak – ternak yang kawin bermusim sebagian besar tergantung pada hypothalamus. Hypothalamus menjalankan pengaruhnya melalui sel – sel saraf yang menyebabkan pengeluaran factor – factor pelepas (releasing faktor) ke dalam saluran darah menuju ke kelenjar adenohypophisa.
Fase – Fase Siklus Berahi
Sekali pubertas telah tercapai dan musim reproduksi telah dimulai estrus terjadi pada hewan – hewan betina tidak bunting menurut suatu ritmik siklus yang khas. Interval antara timbulnya suatu periode berahi ke permulaan periode berahi berikutnya dikenal dengan siklus berahi. Interval – interval ini disertai oleh suatu seri perubahan – perubahan fisiologik didalam suatu saluran kelamin betina.
Walaupun setiap spesies mempunyai cirri – cirri khas dari pola berahinya, namun pada dasarnya adalah sama. Siklus berahi umumnya dibagi atas 4 fase atau periode yaitu proestrus, estrus, metestru, dan diestrus. Beberapa peneliti membaginya atas dua fase, fase folikuler atau estrogenic yang meliputi proestrus dan estrus, dan fase luteal dan progestational yang terdiri dari metestrus dan diestrus.
Proestrus adalah fase sebelum estrus yaitu periode dimana folikel de Graaf bertumbuh dibawah pengaruh FSH dan menghasilkan sejumlah estrodial yang semakin bertambah. System reproduksi memulai persiapan – persiapan untuk melepaskan ovum dari ovarium. Folikel, atau cairan folikel – folikel, tergantung pada spesies, mengembang dan diisi dengan cairan folikuler. Setiap folikel bertumbuh cepat selama 2 atau 3 hari sebelum estrus. Pada fase ini terjadi peningkatan pada pertumbuhan – pertumbuhan sel – sel dan lapisan bercilia pada tuba faloppii, dalam vaskularisasi mucosa arteri, dan dalam tebal dan vaskularisasi epithel vagina, dan kornifikasi terjadi pada beberapa spesies tertentu.
Estrus. Periode yang ditandai dengan keinginan kelamin dan penerimaan pejantan oleh hewan betina. Selama periode ini biasanya hewan betina akan mencari dan menerima pejantan untuk berkopulasi. Folikel de graaf membesar dan menjadi matang. Ovum mengalami perubahan – perubahan kea rah pematangan. Estradiol dari folikel de Graaf yang matang menyebabkan perubahan – perubahan pada saluran reproduksi tubuler yang maksimal pada fase ini.
Matestrus atau postestrus dalah periode segera setelah estrus di mana corpus luteum bertambah cepat dari sel – sel granulose folikel yang telah pecah di bawah pengaruh hormone LH dari adenohypophisa. Matestrus sebgaian besar berada dibawah pengaruh hormone progesterone yang dihasilkan oleh corpus luteum. Progesteron menghambat sekresi FSH oleh adenohypophisa sehingga menghmabat folikel de Graaf yang lain dan mencegah terjadinya estrus.
Diestrus dalah periode terakhir dan terlama siklus berahi pada ternak – ternak mamalia. Corpus luteum menjadi matang dan pengaruh hormone progesterone terhadap saluran reproduksi menjadi nyata.
BERAHI (estrus)
Estrus dan ovulasi sedikit banyaknya diserentakkan pada hewan betina untuk mempertinggi kemungkinan pertemuan ovum dengan spermatozoa dalam proses pembuahan untuk memulai pertumbuhan dan perkembangan individu baru. Sinkronisasi estrus dan ovulasi perlu karena umur ovum sesudah ovlasi dan umur sperma yang sudah disemprotkan ke dalam saluran kelamin betina sangat terbatas untuk beberapa jam.
Gejala – Gejala Berahi
Selama estrus, sapi betina menjadi sangat tidak tenang, kurang nafsu makan, dan kadang – kadang menaiki sapi – sapi betina lain dan akan diam berdiri bila dinaiki. Vulava tersebut akan membengkak. Memerah dan penuh dengan sekresi mucus transparan yang menggantung dari vulva atau terlihat di pangkal ekor.
Lamanya Berahi
Lamanya berahi bervariasi pada tiap – tiap hewan dan anatara individu dalam satu spesies. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh varias- variasi sewaktu estrus, terutama pada sapi dengan periode berahinya yang terpendek di antara semua ternak mamalia.
Berahi selama kebuntingan
Berhentinya estrus sesudah perkawinan merupakan indikasi yang baik bahwa kebuntingan telah terjadi. Akan tetapi dapat juga terjadi pada 3 sampai 5 % sapi – sapi yang bunting selama 3 bulan pertama masa kenuntingan walaupun dapat terjadi dalam bulan – bulan yang lebih tua.
Dalam bukunya Toelihere yang berjudul Fisiologi Reproduksi Pada Ternak, menyatakan bahwa hormon progesteron dipersiapkan uterus untuk implantasi blatosis, memelihara dan mengatur organ-organ. Corpus luteum pada domba merupakan sumber progesteron utama, sehingga kadar hormon progesteron sangat erat kaitannya dengan tingkat ovulasi. Semakin tinggi ovulasi, maka kadar hormon progesteron akan meningkat, terutama berkaitan dengan pemeliharaan kebuntingan. Perpanjangan saluran kelenjar ambing dibawah pengaruh hormon estradiol. Percabangan pada saluran kelenjar ambing dan pembentukan lobul alveolar terjadi setelah saluran kelenjar ambing selesai, dipengaruhi hormon progesteron. Hormon progesteron dan estradiol bervariasi sesuai dengan usai kebuntingan, terutama dengan laju ovulasi (jumlah corpus luteum), ataupun jumlah anak yang dikandung Pertumbuhan dan perkembangan kelenjar ambing yang optimal terjadi selama kebuntingan, serta paling pesat terjadi setelah periode plasentasi, sedangkan selama periode laktasi pertumbuhan dan perkembangan kelenjar ambing boleh dikatakan sudah berhenti. Kondisi tersebut disebabkan oleh hormon-hormon yang merangsang pertumbuhan dan perkembangan kelenjar ambing sudah menurun. Peningkatan hormon mammogenik selama kebuntingan berhubungan erat dengan jumlah anak yang dilahirkan dan peningkatan produksi susu yang dihasilkan selama laktasi. Banyak jumlah anak yang dilahirkan, semakin tinggi produksi susu yang dihasilkan. Lebih lanjut peningkatan jumlah corpus luteum dan jumlah anak ternyata meningkatkan sekresi progesteron, estradiol dan laktogen plasma. Pertumbuhan dan perkembangan kelenjar susu 98 persen dan merupakan prosentase tertinggi terjadi selama kebuntingan, sedangkan pada periode laktasi hanya + dua persen saja. Kekurangan pakan yang serius dan berlangsung satu sampai tiga minggu selama bulan pertama kebuntingan dapat mengakibatkan kematian embrio (15 persen).
Interval Antara Partus Dan Estrus Pertama
Sesudah partus, hewan betina harus menghasilkan susu untuk anaknya dan menyiapkan uterus, ovarium dan organ – organ kelamin lainnya dan system endokrin untuk memulai lagi suatu siklus normal dan untuk kebuntingan baru. Uterus kembali pada ukuran dan posisi semula (dikenal dengan involusi) dan mempersiapkan diri untuk kebuntingan berikutnya :
1. Sapi. Waktu yang diperlukan untuk involusi antara 30 – 50 hari.
2. Kuda involusi uteri 20 – 40 hri
3. Babi. Estrus pertama sesuadah partus pada babi terjadi pada waktu 3 ampai 5 hari tetapi biasanya tidak disertai ovulasi. Oleh karena itu apabila betina dikawinkan pada saat tersebut tidak akan terjadi kebuntingan.
4. Domba. Lama siklusnya pda domba – domba lokal bervariasi antara 11 sampai dengan 19 hari, rata – rata 16.7 hari.
Rangkaian Kelamin dan Penentuan Jenis Kelamin
Pada pola pewarisan sifat yang diatur oleh gen-gen berangkai atau gen-gen yang terletak pada satu kromosom. Keberadaan gen berangkai pada suatu spesies organisme, yang meliputi urutan dan jaraknya satu sama lain, menghasilkan peta kromosom untuk spesies tersebut, misalnya peta kromosom pada lalat Drosophila melanogaster yang terdiri atas empat kelompok gen berangkai (Gambar).
Salah satu dari keempat kelompok gen berangkai atau keempat pasang kromosom pada D. melanogaster tersebut, dalam hal ini kromosom nomor 1, disebut sebagai kromosom kelamin. Pemberian nama ini karena strukturnya pada individu jantan dan individu betina memperlihatkan perbedaan sehingga dapat digunakan untuk membedakan jenis kelamin individu. Ternyata banyak sekali spesies organisme lainnya, terutama hewan dan juga manusia, mempunyai kromosom kelamin.
Gen-gen yang terletak pada kromosom kelamin dinamakan gen rangkai kelamin (sex-linked genes) sementara fenomena yang melibatkan pewarisan gen-gen ini disebut peristiwa rangkai kelamin (linkage). Adapun gen berangkai yang dibicarakan adalah gen-gen yang terletak pada kromosom selain kromosom kelamin, yaitu kromosom yang pada individu jantan dan betina sama strukturnya sehingga tidak dapat digunakan untuk membedakan jenis kelamin. Kromosom semacam ini dinamakan autosom.
Seperti halnya gen berangkai (autosomal), gen-gen rangkai kelamin tidak mengalami segregasi dan penggabungan secara acak di dalam gamet-gamet yang terbentuk. Akibatnya, individu-individu yang dihasilkan melalui kombinasi gamet tersebut memperlihatkan nisbah fenotipe dan genotipe yang menyimpang dari hukum Mendel. Selain itu, jika pada percobaan Mendel perkawinan resiprok (genotipe tetua jantan dan betina dipertukarkan) menghasilkan keturunan yang sama, tidak demikian halnya untuk sifat-sifat yang diatur oleh gen rangkai kelamin.
Gen rangkai kelamin dapat dikelompok-kelompokkan berdasarkan atas macam kromosom kelamin tempatnya berada. Oleh karena kromosom kelamin pada umumnya dapat dibedakan menjadi kromosom X dan Y, maka gen rangkai kelamin dapat menjadi gen rangkai X (X-linked genes) dan gen rangkai Y (Y-linked genes). Di samping itu, ada pula beberapa gen yang terletak pada kromosom X tetapi memiliki pasangan pada kromosom Y. Gen semacam ini dinamakan gen rangkai kelamin tak sempurna (incompletely sex-linked genes). Pada bab ini akan dijelaskan cara pewarisan macam-macam gen rangkai kelamin tersebut serta beberapa sistem penentuan jenis kelamin pada berbagai spesies organisme.
Pewarisan Rangkai X
Percobaan yang pertama kali mengungkapkan adanya peristiwa rangkai kelamin dilakukan oleh T.H Morgan pada tahun 1910. Dia menyilangkan lalat D. melanogaster jantan bermata putih dengan betina bermata merah. Lalat bermata merah lazim dianggap sebagai lalat normal atau tipe alami (wild type), sedang gen pengatur tipe alami, misalnya pengatur warna mata merah ini, dapat dilambangkan dengan tanda +. Biasanya, meskipun tidak selalu, gen tipe alami bersifat dominan terhadap alel mutannya.
Hasil persilangan Morgan tersebut, khususnya pada generasi F1, ternyata berbeda jika tetua jantan yang digunakan adalah tipe alami (bermata merah) dan tetua betinanya bermata putih. Dengan perkataan lain, perkawinan resiprok menghasilkan keturunan yang berbeda. Persilangan resiprok dengan hasil yang berbeda ini memberikan petunjuk bahwa pewarisan warna mata pada Drosophila ada hubungannya dengan jenis kelamin, dan ternyata kemudian memang diketahui bahwa gen yang mengatur warna mata pada Drosophila terletak pada kromosom kelamin, dalam hal ini kromosom X. Oleh karena itu, gen pengatur warna mata ini dikatakan sebagai gen rangkai X.
Secara skema pewarisan warna mata pada Drosophila dapat dilihat pada Gambar 6.1. Kromosom X dan Y masimg-masing lazim dilambangkan dengan tanda dan .
P : + + w P : w w +
x x
betina normal jantan mata putih betina mata putih jantan normal
F1 : + w + F1: + w w
betina normal jantan normal betina normal jantan mata putih
a) b)
Gambar 1. Diagram persilangan rangkai X pada Drosophila
Jika kita perhatikan Gambar diatas, akan nampak bahwa lalat F1 betina mempunyai mata seperti tetua jantannya, yaitu normal/merah. Sebaliknya, lalat F1 jantan warna matanya seperti tetua betinanya, yaitu putih. Pewarisan sifat semacam ini disebut sebagai criss cross inheritance.
Pada Drosophila, dan juga beberapa spesies organisme lainnya, individu betina membawa dua buah kromosom X, yang dengan sendirinya homolog, sehingga gamet-gamet yang dihasilkannya akan mempunyai susunan gen yang sama. Oleh karena itu, individu betina ini dikatakan bersifat homogametik. Sebaliknya, individu jantan yang hanya membawa sebuah kromosom X akan menghasilkan dua macam gamet yang berbeda, yaitu gamet yang membawa kromosom X dan gamet yang membawa kromosom Y. Individu jantan ini dikatakan bersifat heterogametik.
Istilah hemizigot digunakan untuk menyebutkan genotipe individu dengan sebuah kromosom X. Individu dengan gen dominan yang terdapat pada satu-satunya kromosom X dikatakan hemizigot dominan. Sebaliknya, jika gen tersebut resesif, individu yang memilikinya disebut hemizigot resesif.
Rangkai X pada manusia
Salah satu contoh gen rangkai X pada manusia adalah gen resesif yang menyebabkan penyakit hemofilia, yaitu gangguan dalam proses pembekuan darah. Sebenarnya, kasus hemofilia telah dijumpai sejak lama di negara-negara Arab ketika beberapa anak laki-laki meninggal akibat perdarahan hebat setelah dikhitan. Namun, waktu itu kematian akibat perdarahan ini hanya dianggap sebagai takdir semata.
Hemofilia baru menjadi terkenal dan dipelajari pola pewarisannya setelah beberapa anggota keluarga Kerajaan Inggris mengalaminya. Awalnya, salah seorang di antara putra Ratu Victoria menderita hemofilia sementara dua di antara putrinya karier atau heterozigot. Dari kedua putri yang heterozigot ini lahir tiga cucu laki-laki yang menderita hemofilia dan empat cucu wanita yang heterozigot. Melalui dua dari keempat cucu yang heterozigot inilah penyakit hemofilia tersebar di kalangan keluarga Kerajaan Rusia dan Spanyol. Sementara itu, anggota keluarga Kerajaan Inggris saat ini yang merupakan keturunan putra/putri normal Ratu Victoria bebas dari penyakit hemofilia.
Sistem nisbah X/A
C.B. Bridge melakukan serangkaian penelitian mengenai jenis kelamin pada lalat Drosophila. Dia berhasil menyimpulkan bahwa sistem penentuan jenis kelamin pada organisme tersebut berkaitan dengan nisbah banyaknya kromosom X terhadap banyaknya autosom, dan tidak ada hubungannya dengan kromosom Y. Dalam hal ini kromosom Y hanya berperan mengatur fertilitas jantan. Secara ringkas penentuan jenis kelamin dengan sistem X/A pada lalat Drosophila dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Penentuan jenis kelamin pada lalat Drosophila
Σ kromosom X Σ autosom nibah X/A jenis kelamin
1 2 0,5 jantan
2 2 1 betina
3 2 1,5 metabetina
4 3 1,33 metabetina
4 4 1 betina 4n
3 3 1 betina 3n
3 4 0,75 interseks
2 3 0,67 interseks
2 4 0,5 jantan
1 3 0,33 metajantan
Jika kita perhatikan kolom pertama pada Tabel.1 akan terlihat bahwa ada beberapa individu yang jumlah kromosom X-nya lebih dari dua buah, yakni individu dengan jenis kelamin metabetina, betina triploid dan tetraploid, serta interseks. Adanya kromosom X yang didapatkan melebihi jumlah kromosom X pada individu normal (diploid) ini disebabkan oleh terjadinya peristiwa yang dinamakan gagal pisah (non disjunction), yaitu gagal berpisahnya kedua kromosom X pada waktu pembelahan meiosis.
Pada Drosophila terjadinya gagal pisah dapat menyebabkan terbentuknya beberapa individu abnormal seperti nampak pada Gambar 3.
P : AAXX x AAXY
gagal pisah
gamet : AXX AO AX AY
F1 : AAXXX AAXXY AAXO AAOY
betina super betina jantan steril letal
Gambar 3. Diagram munculnya beberapa individu abnormal pada
Drosophila akibat peristiwa gagal pisah
Di samping kelainan-kelainan tersebut pernah pula dilaporkan adanya lalat Drosophila yang sebagian tubuhnya memperlihatkan sifat-sifat sebagai jenis kelamin jantan sementara sebagian lainnya betina. Lalat ini dikatakan mengalami mozaik seksual atau biasa disebut dengan istilah ginandromorfi. Penyebabnya adalah ketidakteraturan distribusi kromosom X pada masa-masa awal pembelahan mitosis zigot. Dalam hal ini ada sel yang menerima dua kromosom X tetapi ada pula yang hanya menerima satu kromosom X.
Kromatin Kelamin
Pada sel somatis wanita terdapat sebuah kromatin kelamin sementara sel somatis pria tidak memilikinya. Selanjutnya diketahui bahwa banyaknya kromatin kelamin ternyata sama dengan banyaknya kromosom X dikurangi satu. Jadi, wanita normal mempunyai sebuah kromatin kelamin karena kromosom X-nya ada dua. Demikian pula, pria normal tidak mempunyai kromatin kelamin karena kromosom X-nya hanya satu.
Dewasa ini keberadaan kromatin kelamin sering kali digunakan untuk menentukan jenis kelamin serta mendiagnosis berbagai kelainan kromosom kelamin pada janin melalui pengambilan cairan amnion embrio (amniosentesis). Pria dengan kelainan kromosom kelamin, misalnya penderita sindrom Klinefelter (XXY), mempunyai sebuah kromatin kelamin yang seharusnya tidak dimiliki oleh seorang pria normal. Sebaliknya, wanita penderita sindrom Turner (XO) tidak mempunyai kromatin kelamin yang seharusnya ada pada wanita normal.
Mary F. Lyon, seorang ahli genetika dari Inggris mengajukan hipotesis bahwa kromatin kelamin merupakan kromosom X yang mengalami kondensasi atau heterokromatinisasi sehingga secara genetik menjadi inaktif. Hipotesis ini dilandasi hasil pengamatannya atas ekspresi gen rangkai X yang mengatur warna bulu pada mencit. Individu betina heterozigot memperlihatkan fenotipe mozaik yang jelas berbeda dengan ekspresi gen semidominan (warna antara yang seragam). Hal ini menunjukkan bahwa hanya ada satu kromosom X yang aktif di antara kedua kromosom X pada individu betina. Kromosom X yang aktif pada suatu sel mungkin membawa gen dominan sementara pada sel yang lain mungkin justru membawa gen resesif.
Hipotesis Lyon juga menjelaskan adanya mekanisme kompensasi dosis pada mamalia. Mekanisme kompensasi dosis diusulkan karena adanya fenomena bahwa suatu gen rangkai X akan mempunyai dosis efektif yang sama pada kedua jenis kelamin. Dengan perkataan lain, gen rangkai X pada individu homozigot akan diekspesikan sama kuat dengan gen rangkai X pada individu hemizigot.
Hormon dan Diferensiasi Kelamin
Dari penjelasan mengenai berbagai sistem penentuan jenis kelamin organisme diketahui bahwa faktor genetis memegang peranan utama dalam ekspresi sifat kelamin primer. Selanjutnya, sistem hormon akan mengatur kondisi fisiologi dalam tubuh individu sehingga mempengaruhi perkembangan sifat kelamin sekunder.
Pada hewan tingkat tinggi dan manusia hormon kelamin disintesis oleh ovarium, testes, dan kelenjar adrenalin. Ovarium dan testes masing-masing mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai penghasil sel kelamin (gamet) dan sebagai penghasil hormon kelamin. Sementara itu, kelenjar adrenalin menghasilkan steroid yang secara kimia berhubungan erat dengan gonad.
Gen terpengaruh kelamin
Gen terpengaruh kelamin (sex influenced genes) ialah gen yang memperlihatkan perbedaan ekspresi antara individu jantan dan betina akibat pengaruh hormon kelamin. Sebagai contoh, gen autosomal H yang mengatur pembentukan tanduk pada domba akan bersifat dominan pada individu jantan tetapi resesif pada individu betina. Sebaliknya, alelnya h, bersifat dominan pada domba betina tetapi resesif pada domba jantan. Oleh karena itu, untuk dapat bertanduk domba betina harus mempunyai dua gen H (homozigot) sementara domba jantan cukup dengan satu gen H (heterozigot).
Tabel 2. Ekspresi gen terpengaruh kelamin pada domba
Genotipe Domba jantan Domba betina
HH bertanduk bertanduk
Hh bertanduk tidak bertanduk
hh tidak bertanduk tidak bertanduk
Contoh lain gen terpengaruh kelamin adalah gen autosomal B yang mengatur kebotakan pada manusia. Gen B dominan pada pria tetapi resesif pada wanita. Sebaliknya, gen b dominan pada wanita tetapi resesif pada pria. Akibatnya, pria heterozigot akan mengalami kebotakan, sedang wanita heterozigot akan normal. Untuk dapat mengalami kebotakan seorang wanita harus mempunyai gen B dalam keadaan homozigot.
Gen terbatasi kelamin
Selain mempengaruhi perbedaan ekspresi gen di antara jenis kelamin, hormon kelamin juga dapat membatasi ekspresi gen pada salah satu jenis kelamin. Gen yang hanya dapat diekspresikan pada salah satu jenis kelamin dinamakan gen terbatasi kelamin (sex limited genes). Contoh gen semacam ini adalah gen yang mengatur produksi susu pada sapi perah, yang dengan sendirinya hanya dapat diekspresikan pada individu betina. Namun, individu jantan dengan genotipe tertentu sebenarnya juga mempunyai potensi untuk menghasilkan keturunan dengan produksi susu yang tinggi sehingga keberadaannya sangat diperlukan dalam upaya pemuliaan ternak tersebut.
Gen dan Kromosom
Letak Kromosom
Seperti telah dijelaskan dalam pembahasan tentang perkembangbiakan, semua keturunan hasil perkembangbiakan generatif mempunyai sifat yang bervariasi yang merupakan hasil dari campuran sifat kedua induknya. Misalnya, seorang ayah berambut lurus menikah dengan seorang ibu berambut keriting. Anak-anak mereka mungkin ada yang berambut lurus, berambut keriting, atau berambut ikal (antara lurus dan keriting). Rambut lurus dan rambut keriting disebut sifat beda.
Contoh sifat beda pada tumbuhan adalah batang tinggi, batang pendek, warna bunga merah, warna bunga putih, rasa buah manis, rasa buah asam, biji bulat, dan biji kisut (keriput). Sekarang sudah diketahui bahwa sifat beda ditentukan dan diwariskan oleh gen penentu sifat yang terletak di dalam kromosom. Istilah kromosom pertama kali diperkenalkan oleh W. Waldeyer. Kromosom berasal dari dua kata, yaitu chroma (warna) dan soma (badan). Istilah ini muncul karena bagian ini akan jelas terlihat di bawah mikroskop apabila diberi zat warna. Kromosom terletak di dalam nukleus (inti sel). Inti sel tubuh dan inti sel kelamin suatu organisme mempunyai jumlah yang berbeda. Kromosom yang terletak di dalam inti sel tubuh bersifat haploid (2n), sedangkan yang terletak di dalam inti sel kelamin (gamet) bersifat haploid (n). Jumlah kromosom pada sel tubuh manusia sebanyak 46 (23 pasang), sedangkan pada sel kelaminnya (sperma atau ovum) sebanyak 23. dalam setiap kromosom manusia terdapat ribuan gen.
macam-macam kromosom
Berdasarkan fungsinya, kromosom dibedakan menjadi kromosom tubuh dan kromosom kelamin: Kromosom tubuh atau autosom adalah kromosom yang tidak menentukan jenis kelamin, berjumlah 2n-2. pada manusia jumlah autosom pada setiap sel tubuh sebanyak 44 (22 pasang). Kromosom kelamin (seks) atau gonosom adalah kromosom yang menentukan jenis kelamin, berjumlah sepasang. Kromosom kelamin pada wanita XX, sedangkan laki-laki XY.
Istilah – Istilah dalam Penurunan Kromosom.
Parental (P), yaitu induk (jantan dan betina) yang mengadakan perkawinan/persilangan. Parental disebut juga orang tua/tetua.
Filial (F), yaitu individu hasil persilangan, disebut juga keturunan/zuriat. Keturuanan pertama diberi simbol F1, keturunan kedua diberi simbol F2, dst.
Gen dominan, yaitu gen yang mampu menutupi sifat gen lain yang sealel.
Gen resesif, yaitu gen yang ditutupi oleh sifat gen lain yang sealel.
Gen intermediat/kodominan, yaitu gen yang tidak saling mengalahkan atau mempunyai pengaruh yang sama kuat.
Alel, yaitu gen-gen yang terletak pada kromosom homolog.
Fenotipe, yaitu sifat-sitat yang tampak dari luar, dapat dicium, dapat dirasakan, misalnya rambut lurus, batang tinggi, bunga merah. bau harum, dan rasa manis.
Fenotipe merupakan perpaduan antara faktor genotipe dan faktor lingkungan.
Genotipe, yaitu sitat yang tidak tampak dari luar dan disimbolkan dengan huruf awal sifat-sifat yang diwakilinya. Sifat dominan disimbolkan dengan huruf besar. sedang sifat resesif disimbolkan dengan huruf kecil. Misalnya, batang tinggi dominan terhadap batang pendek. Gen batang tinggidisimbolkan dengan huruf T, sedangkan batang pendek djsimbolkan dengan huruf t. Sifat pada genotip disimbolkan dengan huruf yang ditulis rangkap. misalnya TT, Tt, atau tt.
Heterozigot, yaitu pasangan gen yang mempunyai alel yang berbeda. misalnya Aa atau Mm.
Hibrid, yaitu hasil persilangan atau hasil perkawinan antara dua individu yang mempunyai sifat beda. Persilangan dengan satu sitat beda disebut persilangan monohibrid, persilangan dengan dua sifat beda disebut persilangan dihibrid. persilangan dengan tiga silat beda disebut persilangan trihibrid, dan seterusnya.
KESIMPULAN
Reproduksi baru dapat berlangsung setelah hewan mencapai masa pubertas atau dewasa kelamin, dan hal ini diatur oleh kelenjar-kelenjar endokrin dan hormon yang dihasilkan dalam tubuh hewan.
Hewan betina harus menghasilkan ovum yang hidup dan di ovulasikan pada waktu yang tepat. Ia harus memperlihatkan estrus atau keinginan untuk kawin dekat waktu ovulasi sehingga kemungkinan penyatuan sel kelamin jantan dengan sel telur dan kemungkinan pembuahan lebih tinggi.
reproduksi normal melingkupi penyerentakan dan penyesuaian banyak mekanisme fisiologik.
kromosom kelamin dinamakan gen rangkai kelamin (sex-linked genes) sementara fenomena yang melibatkan pewarisan gen-gen ini disebut peristiwa rangkai kelamin (linkage). Adapun gen berangkai yang dibicarakan adalah gen-gen yang terletak pada kromosom selain kromosom kelamin, yaitu kromosom yang pada individu jantan dan betina sama strukturnya sehingga tidak dapat digunakan untuk membedakan jenis kelamin. Kromosom semacam ini dinamakan autosom.
DAFTAR PUSTAKA
Udiati Umi. 2007. Menyerentakkan Berahi Domba Dan Kambing dengan Spons
Progesteron. Warta Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Vol.29,No.,3
Usman Budi. 2006. Buku Ajar Dasar Ternak Perah, Departemen Peternakan Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
Toelihere R. Mozes.1985.Fisiologi Reproduksi Pada Ternak, Penerbit Angkasa Bandung,
Toelihere R. Mozes.1985. Inseminasi Buatan Pada Ternak, Penerbit Angkasa Bandung,
Tiga belas istilah dalam Incoterms
Tiga belas istilah dalam Incoterms 2000:
EXW (nama tempat): Ex Works, pihak penjual menentukan tempat pengambilan barang.
FCA (nama tempat): Free Carrier, pihak penjual hanya bertanggung jawab untuk mengurus ijin ekspor dan meyerahkan barang ke pihak pengangkut di tempat yang telah ditentukan.
FAS (nama pelabuhan keberangkatan): Free Alongside Ship, pihak penjual bertanggung jawab sampai barang berada di pelabuhan keberangkatan dan siap disamping kapal untuk dimuat. Hanya berlaku untuk transportasi air.
FOB (nama pelabuhan keberangkatan): Free On Board, pihak penjual bertanggung jawab dari mengurus ijin ekspor sampai memuat barang di kapal yang siap berangkat. Hanya berlaku untuk transportasi air.
CFR (nama pelabuhan tujuan): Cost and Freight, pihak penjual menanggung biaya sampai kapal yang memuat barang merapat di pelabuhan tujuan, namun tanggung jawab hanya sampai saat kapal berangkat dari pelabuhan keberangkatan. Hanya berlaku untuk transportasi air.
CIF (nama pelabuhan tujuan): Cost, Insurance and Freight, sama seperti CFR ditambah pihak penjual wajib membayar asuransi untuk barang yang dikirim. Hanya berlaku untuk transportasi air.
CPT (nama tempat tujuan): Carriage Paid To, pihak penjual menanggung biaya sampai barang tiba di tempat tujuan, namun tanggung jawab hanya sampai saat barang diserahkan ke pihak pengangkut.
CIP (nama tempat tujuan): Carriage and Insurance Paid to, sama seperti CPT ditambah pihak penjual wajib membayar asuransi untuk barang yang dikirim.
DAF (nama tempat): Delivered At Frontier, pihak penjual mengurus ijin ekspor dan bertanggung jawab sampai barang tiba di perbatasan negara tujuan. Bea cukai dan ijin impor menjadi tanggung jawab pihak pembeli.
DES (nama pelabuhan tujuan): Delivered Ex Ship, pihak penjual bertanggung jawab sampai kapal yang membawa barang merapat di pelabuhan tujuan dan siap untuk dibongkar. Ijin impor menjadi tanggung jawab pihak pembeli. Hanya berlaku untuk transportasi air.
DEQ (nama pelabuhan tujuan): Delivered Ex Quay, pihak penjual bertanggung jawab sampai kapal yang membawa barang merapat di pelabuhan tujuan dan barang telah dibongkar dan disimpan di dermaga. Ijin impor menjadi tanggung jawab pihak pembeli. Hanya berlaku untuk transportasi air.
DDU (nama tempat tujuan): Delivered Duty Unpaid, pihak penjual bertanggung jawab mengantar barang sampai di tempat tujuan, namun tidak termasuk biaya asuransi dan biaya lain yang mungkin muncul sebagai biaya impor, cukai dan pajak dari negara pihak pembeli. Ijin impor menjadi tanggung jawab pihak pembeli. s
DDP (nama tempat tujuan): Delivered Duty Paid, pihak penjual bertanggung jawab mengantar barang sampai di tempat tujuan, termasuk biaya asuransi dan semua biaya lain yang mungkin muncul sebagai biaya impor, cukai dan pajak dari negara pihak pembeli. Ijin impor juga menjadi tanggung jawab pihak penjual.
Contoh penggunaan Incoterms 2000:
FCA Jakarta Incoterms 2000
FOB Liverpool Incoterms 2000
DDU Frankfurt Schmidt GmbH Warehouse 4 Incoterms 2000
EXW (nama tempat): Ex Works, pihak penjual menentukan tempat pengambilan barang.
FCA (nama tempat): Free Carrier, pihak penjual hanya bertanggung jawab untuk mengurus ijin ekspor dan meyerahkan barang ke pihak pengangkut di tempat yang telah ditentukan.
FAS (nama pelabuhan keberangkatan): Free Alongside Ship, pihak penjual bertanggung jawab sampai barang berada di pelabuhan keberangkatan dan siap disamping kapal untuk dimuat. Hanya berlaku untuk transportasi air.
FOB (nama pelabuhan keberangkatan): Free On Board, pihak penjual bertanggung jawab dari mengurus ijin ekspor sampai memuat barang di kapal yang siap berangkat. Hanya berlaku untuk transportasi air.
CFR (nama pelabuhan tujuan): Cost and Freight, pihak penjual menanggung biaya sampai kapal yang memuat barang merapat di pelabuhan tujuan, namun tanggung jawab hanya sampai saat kapal berangkat dari pelabuhan keberangkatan. Hanya berlaku untuk transportasi air.
CIF (nama pelabuhan tujuan): Cost, Insurance and Freight, sama seperti CFR ditambah pihak penjual wajib membayar asuransi untuk barang yang dikirim. Hanya berlaku untuk transportasi air.
CPT (nama tempat tujuan): Carriage Paid To, pihak penjual menanggung biaya sampai barang tiba di tempat tujuan, namun tanggung jawab hanya sampai saat barang diserahkan ke pihak pengangkut.
CIP (nama tempat tujuan): Carriage and Insurance Paid to, sama seperti CPT ditambah pihak penjual wajib membayar asuransi untuk barang yang dikirim.
DAF (nama tempat): Delivered At Frontier, pihak penjual mengurus ijin ekspor dan bertanggung jawab sampai barang tiba di perbatasan negara tujuan. Bea cukai dan ijin impor menjadi tanggung jawab pihak pembeli.
DES (nama pelabuhan tujuan): Delivered Ex Ship, pihak penjual bertanggung jawab sampai kapal yang membawa barang merapat di pelabuhan tujuan dan siap untuk dibongkar. Ijin impor menjadi tanggung jawab pihak pembeli. Hanya berlaku untuk transportasi air.
DEQ (nama pelabuhan tujuan): Delivered Ex Quay, pihak penjual bertanggung jawab sampai kapal yang membawa barang merapat di pelabuhan tujuan dan barang telah dibongkar dan disimpan di dermaga. Ijin impor menjadi tanggung jawab pihak pembeli. Hanya berlaku untuk transportasi air.
DDU (nama tempat tujuan): Delivered Duty Unpaid, pihak penjual bertanggung jawab mengantar barang sampai di tempat tujuan, namun tidak termasuk biaya asuransi dan biaya lain yang mungkin muncul sebagai biaya impor, cukai dan pajak dari negara pihak pembeli. Ijin impor menjadi tanggung jawab pihak pembeli. s
DDP (nama tempat tujuan): Delivered Duty Paid, pihak penjual bertanggung jawab mengantar barang sampai di tempat tujuan, termasuk biaya asuransi dan semua biaya lain yang mungkin muncul sebagai biaya impor, cukai dan pajak dari negara pihak pembeli. Ijin impor juga menjadi tanggung jawab pihak penjual.
Contoh penggunaan Incoterms 2000:
FCA Jakarta Incoterms 2000
FOB Liverpool Incoterms 2000
DDU Frankfurt Schmidt GmbH Warehouse 4 Incoterms 2000
Langganan:
Komentar (Atom)